Rusia Klaim Isu Navalny Diracun Hanya Jadi Alasan untuk Jatuhkan Sanksi
AP Images
Dunia

Rusia dituding menggunakan racun saraf Novichok untuk meracuni tokoh oposisi Alexei Navalny dan dituntut melakukan penyelidikan yang transparan serta menyeluruh atas kasus ini.

WowKeren - Kasus peracunan tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny, rupanya belum juga menemukan titik temu. Usai PBB menyerukan untuk melakukan investigasi independen atas kasus ini, Rusia pun buka suara dan mengatakan kalau dugaan peracunan Navalny hanyalah sebuah kampanye disinformasi untuk mempromosikan sanksi baru terhadap Moskow.

Kemlu Rusia merilis pernyataan setelah Menteri Luar Negeri G7 pada Selasa (8/9) menuntut agar negara tersebut segera menemukan dan menuntut pihak yang bertanggung jawab atas dugaan keracunan yang dialami Navalny. "Kampanye disinformasi besar-besaran sedang terjadi yang bertujuan untuk 'memobilisasi sentimen sanksi' dan tidak ada hubungannya dengan kesehatan Navalny atau 'mencari tahu alasan sebenarnya ia dirawat di rumah sakit," tulis kementerian luar negeri Rusia dalam keterangannya.

Menyusul pernyataan G7, Rusia juga menegaskan kembali tuduhan Jerman terkait adanya racun zat saraf Novichok karena telah menolak untuk membagikan informasi lebih rinci terkait kasus Navalny. "Serangan tak berdasar terhadap Rusia terus berlanjut."

Negara-negara G7 termasuk Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang mengatakan bahwa Berlin mengonfirmasi Navalny yang merupakan tokoh oposisi Presiden Valdimir Putin telah diracun. Sebelumnya, Uni Eropa juga sempat mengancam akan menjatuhi sanksi dan memperingatkan Rusia.

Navalny, tokoh yang dikenal selalu mengkritik kepresidenan Rusia, diduga diracun menggunakan Novichok. Racun saraf tersebut adalah zat sama yang menurut Inggris digunakan untuk meracuni agen ganda Rusia Sergei Skripal dan putrinya dalam serangan di Inggris pada 2018 lalu.


Novichok juga merupakan racun digunakan oleh badan intelijen rahasia era Uni Soviet. "Hanya sejumlah kecil orang yang memiliki akses ke Novichok dan racun ini digunakan oleh dinas rahasia Rusia dalam serangan terhadap mantan agen Sergei Skripal," tutur Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, saat dimintai komentar terkait kasus ini.

Di sisi lain, saat ini Navalny dikabarkan telah sadar dari koma dan kini berada dalam perawatan lebih lanjut di Rumah Sakit Charite di Berlin, Jerman. "Pasien sudah dikeluarkan dari koma medis dan kini juga sudah lepas dari ventilator mekanis. Dia juga sudah merespons stimulan verbal," demikian pernyataan Rumah Sakit Charite.

Koma medis atau induced coma merupakan metode medis untuk membuat pasien tidak sadarkan diri dengan obat bius guna mencegah kerusakan otak. Pihak rumah sakit juga menjelaskan bahwa ventilasi mesin yang dipasang pada pasien tersebut sudah mulai dilepaskan.

"Saat ini masih terlalu dini untuk mengukur kemungkinan dampak jangka panjang dari keracunan parah yang ia alami," lanjut pernyataan pihak Rumah Sakit Charite.

Navalny diduga diracun di pesawat saat melakukan perjalanan ke Siberia Agustus lalu. Dia pingsan setelah meminum teh yang disajikan kepadanya. Sebelum dibawa ke Berlin, Navalny sempat menjalani perawatan selama dua hari di kota Omsk di Siberia.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait