Cuitan yang 'disemprit' Twitter tersebut tidak bisa mendapat balasan atau di-retweet, dan hanya bisa dikutip. Cuitan yang ditandai Twitter juga disebut tidak akan direkomendasikan secara algoritmik oleh sistemnya.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 03 November 2020 - 17:20 WIB
WowKeren - Twitter dan Facebook menandai unggahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump soal pemungutan suara via surat (mail in). Dalam unggahannya, Trump mengklaim bahwa keputusan Mahkamah Agung AS tentang pemungutan suara melalui surat di Pennsylvania akan menyebabkan penipuan yang "merajalela" dan "sangat berbahaya".
"Keputusan Mahkamah Agung tentang pemungutan suara di Pennsylvania adalah keputusan yang SANGAT berbahaya," cuit Trump menjelang Pilpres AS yang dihelat pada Selasa (3/11) waktu setempat. "Ini akan memungkinkan kecurangan yang merajalela dan tidak terkendali dan akan merusak seluruh sistem hukum kita. Ini juga akan memicu kekerasan di jalanan. Sesuatu harus dilakukan!"
Twitter menyembunyikan cuitan Trump tersebut karena isinya dinilai masih diperdebatkan. "Sebagian atau semua konten yang disebarkan dalam Tweet ini diperdebatkan dan mungkin memberikan informasi menyesatkan tentang cara berpartisipasi dalam pemilu atau proses kemasyarakatan lainnya," demikian label yang diberikan Twitter kepada cuitan Trump.
Sebagai informasi, Trump dan Partai Republikan telah berulang kali mengatakan bahwa pemungutan suara via surat rentan menghadapi penipuan. Padahal, para ahli Pemilu mengatakan itu jarang terjadi dalam pemilihan AS.
Melansir Reuters pada Selasa (3/11), perusahaan media sosial kini berada di bawah tekanan untuk mengekang informasi yang salah di platform mereka menjelang Pilpres AS. Twitter bahkan telah memberi label dan peringatan kepada cuitan Trump beberapa kali dalam tahun ini karena dianggap melanggar aturan.
Cuitan yang "disemprit" Twitter tersebut tidak bisa mendapat balasan atau di-retweet, dan hanya bisa dikutip. Cuitan yang ditandai Twitter juga disebut tidak akan direkomendasikan secara algoritmik oleh sistemnya.
Menurut grup riset Election Integrity Partnership, Twitter mengambil tindakan sekitar 40 menit setelah cuitan Trump tersebut diunggah. Menurut grup riset tersebut, Twitter sebaiknya meningkatkan kecepatan.
"Tindakan Twitter secara efektif menghentikan penyebaran cuitan," tulis grup riset tersebut. "Namun, (cuitan) itu sudah di-retweet 55 ribu+ kali dan difavoritkan lebih dari 126 ribu kali. Ini adalah jangkauan yang sama atau lebih banyak daripada kebanyakan cuitan lain yang dikeluarkan oleh @realDonaldTrump hari ini."
(wk/Bert)