Selama masa pemerintahan Trump, hubungan Iran dan AS memang meruncing. Trump diketahui menarik AS dari kesepakatan nuklir JCPOA dan menerapkan sanksi ekonomi pada Iran.
- Luthfiatun Nisa
- Rabu, 04 November 2020 - 14:12 WIB
WowKeren - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan bahwa hasil pemilihan presiden Amerika Serikat tidak akan memengaruhi kebijakan negaranya terhadap Washington. Hal itu dia sampaikan saat berpidato memperingati diambil alihnya Kedubes AS di Teheran pada 1979.
"Kebijakan kami terhadap AS diatur dengan jelas dan tidak berubah seiring dengan pergerakan individu. Tidak masalah siapa yang datang dan pergi," kata Khamenei pada Selasa (3/11) waktu setempat, sebagaimana dikutip dari Republika.
Pada kesempatan itu, Khamenei kembali memuji tindakan mahasiswa Iran yang menggeruduk dan merebut Kedubes AS di Teheran pada 1979. "Serangan mahasiswa di sarang mata-mata ini cukup tepat dan bijaksana," ujarnya.
Selama masa pemerintahan Presiden Donald Trump, hubungan Iran dan AS memang kembali meruncing. Trump diketahui menarik AS dari kesepakatan nuklir 2015 yang dikenal dengan istilah Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Trump menilai kesepakatan yang dibuat pada era pemerintahan Barack Obama itu cacat karena tak mengatur program rudal balistik dan aktivitas Iran di kawasan.
Setelah menarik AS dari JCPOA, Trump kembali menerapkan sanksi ekonomi terhadap Iran. Dia pun mendesak Teheran agar bersedia merundingkan kembali poin-poin kesepakatan dalam JCPOA. Namun, Iran menolak hal tersebut.
Sedangkan rivel Trump, capres AS dari Partai Demokrat Joe Biden, telah berjanji akan membawa kembali AS ke JCPOA jika memenangkan pilpres AS kali ini.
Sementara itu, saat ini AS masih menanti hasil penghitungan suara dalam pemilu AS 2020. Dalam pemilu ini, duet petahana Donald Trump dan Mike Pence akan berhadapan dengan Joe Biden dan Kamala Harris.
Di sisi lain, menurut penghitungan suara sementara dari sejumlah media, Biden-Harris terpantau unggul dengan 117 suara elektoral dari 10 negara bagian. Sedangkan Trump mengantongi 80 suara elektoral di 12 negara bagian.
(wk/luth)