Sebelumnya, Indonesia pernah sukses menjadi tuan rumah ajang bergengsi internasional pada tahun 2018 lalu yakni pada gelaran Asian Games dan Asian para Games.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 04 November 2020 - 14:12 WIB
WowKeren - Indonesia tengah bersaing untuk bisa menjadi tuan rumah gelaran Olimpiade tahun 2032 mendatang. Presiden Joko Widodo alias Jokowi mengatakan jika langkah ini bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan martabat bangsa di kancah internasional.
"Perlu saya sampaikan bahwa menjadi tuan rumah Olimpiade bukan sesuatu untuk gagah-gagahan," kata Jokowi seperti disiarkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (4/11). "Tetapi salah satu cara untuk meningkatkan citra dan martabat bangsa."
Jokowi mengatakan pencalonan ini bisa dijadikan sebagai momentum Indonesia untuk memperbaiki diri. Mulai dari sektor infrastruktur yang meliputi fasilitas olahraga, prestasi atlet, hingga peningkatan visibilitas global sebagai negara penyelenggara.
Sebelumnya, Indonesia pernah sukses menjadi tuan rumah ajang bergengsi internasional pada tahun 2018 lalu, Asian Games dan Asian para Games. Sehingga berkaca dari pengalaman ini, Jokowi yakin Indonesia bisa menyelenggarakan event bertaraf internasional lainnya. "Oleh sebab itu, pada tahun 2018 kita secara resmi telah calonkan untuk menjadi tuan rumah Olimpiade pada tahun 2032," kata Jokowi melanjutkan.
Tentu saja, untuk bisa menjadi tuan rumah acara bergengsi ini, Indonesia harus mampu bersaing dengan negara lain. "Untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2032 kita harus bersaing dengan Australia, Jerman, Unifikasi Korea, Qatar, RRT, dan India," kata Jokowi.
Lebih jauh, Jokowi juga berbicara mengenai norma baru International Olympic Committee (IOC). Berdasarkan laporan yang diterimanya, tuan rumah Olimpiade harus sederhana dan hemat biaya. Sehingga menurut Jokowi, menjadi tuan rumah acara tersebut bukan berarti akan menunjukkan kemewahan namun lebih menonjolkan sisi inovasi.
"Saya kira ini baik dan norma baru ini penting untuk dipelajari dan diadaptasi," lanjut Kepala Negara. "Dan kelihatannya filosofi yang baru ini Olimpiade bukan lagi untuk menunjukkan gebyar kemewahan, tetapi sejauh mana kreativitas inovasi itu bisa dilakukan dalam mengimplementasikan norma baru yang diharapkan lebih hemat biaya dan lebih sederhana."
(wk/zodi)