Menurut Direktur Pusat Penelitian Vaksin Peking University, meski pemerintah, perusahaan, lembaga swadaya masyarakat, dan mitra lainnya bekerja sama, maka pemenuhan vaksin COVID-19 akan tetap sulit tercapai.
- Luthfiatun Nisa
- Kamis, 19 November 2020 - 15:21 WIB
WowKeren - Kebutuhan akan vaksin Covid-19 secara global diperkirakan sulit terpenuhi. Kondisi tersebut mengingat jumlah kasus positif menjelang musim dingin tahun ini tidak kunjung turun.
Menurut Direktur Pusat Penelitian Vaksin Peking University, Cui Fuqiang, meski pemerintah, perusahaan, lembaga swadaya masyarakat, dan mitra lainnya bekerja sama, maka pemenuhan dua miliar dosis vaksin akan tetap sulit tercapai. Bahkan kalau pun target produksi tercapai, maka vaksin tersebut tidak akan mampu mencukupi kebutuhan setiap orang.
"Ini pentingnya pemerintah, perusahaan, LSM, dan mitra lainnya membuat konsensus bahwa siapa yang paling membutuhkan perlindungan kesehatan harus diprioritaskan untuk memaksimalkan penggunaan vaksin," ujar Fuqiang.
COVAX, yang mewadahi 186 negara agar bisa mendapatkan akses vaksin Covid-19 secara adil, memiliki program mendistribusikan dua miliar dosis vaksin hingga akhir 2022. Namun, menurut Fuqiang target tersebut menjadi tantangan tersendiri terhadap daya produksi.
"Agar COVAX bisa bekerja sesuai rencana, maka yang utama (mendapatkan perhatian) adalah kemampuan produksi. Dari semua kandidat, hanya sedikit vaksin yang dinyatakan berhasil. Secara statistik, hanya lima sampai 10 persen kandidat vaksin yang akhirnya mendapatkan persetujuan," katanya.
Meskipun COVAX telah menetapkan prinsip-prinsip distribusi dengan pertimbangan keadilan, kerentanan populasi, dan tingkat rasio penularan di suatu negara, menurut Fuqiang masih perlu adanya klausul sebagai petunjuk pelaksana distribusi. "Selain itu, yang perlu diberitahukan sejak awal kepada publik adalah bagaimana pendistribusiannya karena vaksin tidak akan cukup memenuhi kebutuhan semua orang," jelasnya.
Sementara itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan keberadaan vaksin tidak akan langsung menghentikan penyebaran virus corona (Covid-19). Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.
"Vaksin akan melengkapi sarana dan pedoman (kesehatan) yang telah kita punya saat ini, bukan menggantikannya. Vaksin tidak akan menghentikan pandemi dengan sendirinya," kata dirjen WHO tersebut.
Hingga kini, sejumlah negara berlomba-lomba membuat vaksin corona. Sejauh ini sudah ada 12 vaksin yang tengah menjalani tahap tiga dan enam vaksin sudah disetujui namun masih digunakan untuk tujuan terbatas.
Namun, WHO juga menegaskan bahwa pasokan vaksin Covid-19 di awal peredarannya akan dibatasi dan diprioritaskan bagi petugas kesehatan, orang tua, dan populasi berisiko lainnya. Langkah itu diharapkan akan mengurangi jumlah kematian dan memungkinkan sistem kesehatan untuk menanganinya.
(wk/luth)