Hubungan antara Macron dan Erdogan memang telah merenggang sejak lama. Eskalasi ketegangan terus meningkat seiring bentrokan kepentingan masing-masing negara. Termasuk masalah separatisme di Prancis.
- Luthfiatun Nisa
- Senin, 07 Desember 2020 - 15:54 WIB
WowKeren - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berharap Prancis segera menyingkirkan Presiden Emmanuel Macron. Erdogan bahkan menyebut Macron hanya menjadi beban bagi Prancis.
"Macron adalah masalah buat Prancis. Prancis mengalami periode yang sangat, sangat berbahaya. Saya berharap Prancis menyingkirkan masalah Macron secepat mungkin," kata Erdogan kepada wartawan usai salat Jumat di Istanbul, Turki, sebagaimana dilansir dari CNN.
Hubungan antara Macron dan Erdogan telah panas sejak lama. Eskalasi ketegangan terus meningkat seiring bentrokan kepentingan masing-masing negara. Mereka berseteru atas serangkaian masalah, mulai dari ketegangan di Mediterania Timur hingga wilayah Nagorno-Karabakh yang diperebutkan.
Yang terbaru, keduanya berselisih soal agama di mana Macron secara terbuka mendukung sekularitas di negaranya. Meskipun Turki secara resmi adalah negara sekuler, Erdogan langsung berperan sebagai pembela Islam pada saat Prancis bergulat dengan radikalisasi dan gelombang serangan teror.
Erdogan bereaksi dengan marah ketika Macron mengumumkan rencana melindungi nilai-nilai sekuler Prancis dari apa yang dia sebut "separatisme" Islam dan menggambarkan Islam sebagai agama dalam krisis. Erdogan telah berulang kali menyarankan agar Macron menjalani pemeriksaan mental dan mendesak rakyat Turki untuk memboikot produk berlabel Prancis.
Kecaman Erdogan datang ketika Uni Eropa mempertimbangkan menjatuhkan sanksi terhadap Turki pada pertemuan puncak 10 Desember. Sanksi dipicu oleh konflik antara Turki dan Yunani terkait eksplorasi di Mediterania Timur.
Namun, dalam wawancara yang disiarkan televisi hari Jumat, Macron tampak tidak mau terlibat perseteruan baru dengan Erdogan. "Saya percaya pada rasa hormat. Saya pikir makian di antara para pemimpin politik bukanlah metode yang baik," kata Macron.
(wk/luth)