Turki juga melaporkan tambahan kasus Covid-19 sebesar 12.203, dan 212 pasien meninggal dunia. Penghitungan infeksi melebihi 2,22 juta, sementara jumlah kematian naik menjadi 21.093.
- Luthfiatun Nisa
- Sabtu, 02 Januari 2021 - 16:48 WIB
WowKeren - Turki mengumumkan kasus pertama varian baru virus corona (Covid-19) pada Jumat (1/1) waktu setempat, dan menekankan semua tindakan pencegahan yang diperlukan telah diambil.
"Dalam penyelidikan virus yang berasal dari Inggris, virus tersebut terdeteksi pada 15 orang yang masuk dari Inggris ke Turki, saat ini telah dilakukan tindakan yang diperlukan," kata Menteri Kesehatan Turki, Fahrettin Koca, melalui akun Twitter miliknya.
"Pintu masuk dari Inggris ke Turki untuk sementara waktu ditangguhkan," tambah Fahrettin. Ia juga mengatakan bahwa orang-orang yang melakukan kontak erat dengan pasien terinfeksi telah dikarantina.
Selain itu, Turki juga melaporkan tambahan kasus Covid-19 sebesar 12.203, dan 212 pasien meninggal dunia. Penghitungan infeksi melebihi 2,22 juta, sementara jumlah kematian naik menjadi 21.093 di negara tersebut.
Dengan ini, Turki menyusul AS yang lebih dulu melaporkan kasus baru Covid-19 pada Desember lalu. Gubernur Colorado, Jared Polis, mengungkapkan bahwa laboratorium negara bagian AS itu mengkonfirmasi varian baru tersebut. Mereka telah memberikan notifikasi pada Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) AS.
Pada Selasa (29/12), badan kesehatan negara bagian Colorado mengatakan bahwa kasus varian baru ini terjadi pada seorang laki-laki berusia 20-an. Dia diisolasi di Elbert County dan tidak memiliki riwayat perjalanan baru-baru ini, menurut pernyataan dari kantor gubernur.
Pejabat kesehatan masyarakat melakukan wawancara pelacakan kontak untuk menentukan apakah dia memiliki kontak dekat yang telah terpapar.
Di sisi lain, Inggris telah melaporkan varian baru virus corona yang menurut para pejabat sangat menular, tetapi sejauh ini tidak ada bukti yang cukup kuat virus ini menyebabkan infeksi parah atau kematian.
Pandemi COVID-19 telah merenggut lebih dari 1,82 juta nyawa di 191 negara dan wilayah sejak berasal dari Tiongkok pada Desember 2019 lalu. Lebih dari 84 juta kasus telah dilaporkan di seluruh dunia, dengan lebih dari 47,19 juta pemulihan.
(wk/luth)