Oxford Bakal Uji Potensi 'Obat Ajaib' Ivermectin Untuk Pasien COVID-19
Dunia
Pandemi Virus Corona

Peneliti Universitas Oxford berencana menguji coba Ivermectin yang biasa digunakan pada ternak dan orang usai terinfeksi cacing parasit sebagai 'obat ajaib' menangani COVID-19.

WowKeren - Peneliti Universitas Oxford berencana menguji coba obat yang menunjukkan tanda-tanda pengurangan kematian akibat COVID-19 di negara berkembang. Uji coba ini bertujuan untuk menemukan obat yang bekerja segera setelah gejala virus muncul pada pasien.

Percobaan itu menilai Ivermectin yang biasa digunakan pada ternak dan orang usai terinfeksi cacing parasit sebagai 'obat ajaib'. Obat ini sendiri dianggap punya potensi untuk menyelamatkan ribuan nyawa.

Meski demikan, sebagian ilmuwan lain mengatakan obat itu belum dinilai dengan benar dan kemanjurannya belum diketahui sepenuhnya. "Obat ini memiliki potensi sifat antivirus dan antiinflamasi dan ada beberapa percobaan kecil yang dilakukan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang menunjukkan mempercepat pemulihan, mengurangi peradangan, dan mengurangi rawat inap," kata Chris Butler selaku profesor perawatan primer di Oxford dilansir Arab News, Senin (25/1). "Namun, ada celah dalam datanya. Belum ada uji coba yang sangat ketat."


Obat tersebut bekerja dengan memblokir masuknya protein ke dalam inti sel sehingga membatasi kapasitas replikasi virus. Analisis awal dari Organisasi Kesehatan Dunia telah menunjukkan tanda-tanda yang menjanjikan.

"Itu bisa menyelamatkan ribuan nyawa sehari," kata Paul Marik dari Sekolah Kedokteran Virginia Timur. "Datanya menarik: di Meksiko, India, dan Amerika Selatan, angka kematian telah menurun."

Horby mengatakan, bulan ini data terbaru memang menarik, tetapi belum meyakinkan. Ia menyebut, sebagian besar terobosan dalam perawatan virus corona hingga saat ini berhasil pada pasien yang sudah menderita pada tahap lanjut penyakitnya.

Tetapi Butler dan timnya berharap menemukan obat yang dapat mencegah virus tersebut bertahan di dalam tubuh inangnya. Uji coba ini mencari orang yang berusia 65 tahun ke atas atau mereka yang berusia di atas 50 tahun yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts