Stres Terinfeksi COVID-19, Wanita di Jepang Ini Nekat Akhiri Hidup
Dunia
Pandemi Virus Corona

Seorang wanita di Jepang ditemukan tewas bunuh diri usai dinyatakan positif terinfeksi virus corona (COVID-19). Menurut laporan NHK, ia mengalami stres berat dan khawatir akan keselamatan keluarganya.

WowKeren - Seorang wanita di Jepang ditemukan tewas bunuh diri usai dinyatakan positif terinfeksi virus corona (COVID-19). Dikutip dari NHK, Selasa (26/1), wanita ini rupanya bunuh diri akibat stres dan khawatir akan kesejahteraan keluarganya karena ia tertular virus mematikan tersebut.

Pada 15 Januari lalu, wanita berumur 30 tahunan tersebut ditemukan tewas bunuh diri di apartemen miliknya di Tokyo. Dalam sebuah catatan yang ditinggalkannya, ia menyatakan kekhawatirannya apakah ia sempat menularkan virus corona pada putrinya. “Sungguh tak bisa dimaafkan karena saya telah menjadi pengganggu di keluarga ini,” tulisnya.

Wanita tersebut tidak memperlihatkan gejala COVID-19 saat tertular. Pada saat ia bunuh diri, ia sebenarnya tengah melakukan isolasi mandiri di rumahnya.

Di kediamannya itu ia tinggal bersama suami dan putrinya. Ketika dites, suami dan putrinya juga dinyatakan positif COVID-19.

Seorang professor di Universitas Waseda, Michiko Ueda melakukan investigasi terkait dampak psikologis dari penyebaran COVID-19. Menurutnya, ada langkah-langkah yang perlu diambil seiring dengan meningkatnya orang-orang yang menerima perawatan di dalam rumah.


“Banyak orang merasa tertekan dan stress saat mereka terinfeksi," ujar Ueda. "Hal ini bisa menyebabkan mereka merasa bersalah karena terinfeksi."

Misalnya, saat seseorang yang terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah mendadak terinfeksi, ia akan merasa tertekan karena harus mengkhawatirkan kesehatannya dan menjadi tak bisa bekerja. “Selain itu, fakta di mana mereka yang terinfeksi tidak diperbolehkan berinteraksi langsung dengan orang lain akan membuat mereka makin terpuruk secara mental. Kita memerlukan sebuah sistem untuk memahami cara merawat mereka,” tuturnya.

Sebelumnya, para psikolog tengah mengkhawatirkan efek stres yang dialami orang-orang di tengah pandemi. Tentunya mereka mempirkirakan jika hal ini akan berdampak negatif dan berjangka panjang.

Steven Taylor, penulis The Psychology of Pandemics, dan profesor psikiatri di University of British Columbia, berpendapat bahwa "untuk 10 hingga 15% minoritas yang malang, hidup tidak akan kembali normal" karena dampak pandemi pada kesejahteraan mental mereka.

Australia's Black Dog Institure, sebuah organisasi penelitian kesehatan mental independen terkemuka, juga menyuarakan keprihatinan tentang "banyaknya minoritas yang akan terpengaruh oleh kecemasan jangka panjang". Di Inggris, kelompok spesialis kesehatan masyarakat memperingatkan dalam British Medical Journal bahwa "dampak pandemi terhadap kesehatan mental kemungkinan akan bertahan lebih lama daripada dampak kesehatan fisik".

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts