Sebagai informasi, Samuel Paty dibunuh oleh seorang pemuda berusia 18 tahun bernama Abdullah Anzorov usai sempat menunjukkan karikatur Nabi Muhammad SAW di kelasnya.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 09 Maret 2021 - 16:13 WIB
WowKeren - Kasus pemenggalan seorang guru Prancis bernama Samuel Patty pada Oktober 2020 lalu sempat menggegerkan dunia. Paty dibunuh oleh seorang pemuda berusia 18 tahun bernama Abdullah Anzorov usai sempat menunjukkan karikatur Nabi Muhammad SAW di kelasnya.
Kini, seorang siswi mengaku telah berbohong dan menyebarkan klaim palsu soal Paty yang merupakan guru sejarah tersebut. Siswi berusia 13 tahun tersebut awalnya mengklaim bahwa Paty telah meminta anak didiknya yang beragama Muslim untuk meninggalkan ruang kelas sebelum ia menunjukkan karikatur Nabi Muhammad dalam diskusi tentang kebebasan berbicara dan penistaan.
Kepada ayahnya, siswi tersebut mengaku sempat menyampaikan ketidaksetujuannya kepada Paty. Namun akhirnya siswi tersebut justru diskors dari kelas selama dua hari akibat argumen itu.
Kebohongan tersebut disampaikan karena siswi tersebut tak mau ayahnya tahu ia telah diskors berulang kali akibat membolos. Sang ayah lantas mengajukan gugatan hukum terhadap Paty dan memulai kampanye media sosial atas insiden tersebut berdasarkan pengakuan putrinya.
Ayah Z juga mengidentifikasi Paty dan sekolah terkait di Conflans-Sainte-Honorine, sebelah barat Paris. 10 hari kemudian, Paty ditemukan meninggal dunia dalam keadaan terpenggal.
Jaksa penuntut telah menyatakan bahwa ada "hubungan sebab akibat langsung" antara hasutan online terhadap Paty dengan kasus pembunuhannya. Pelaku pembunuhan Paty sendiri telah ditembak mati oleh pihak kepolisian tak lama setelah melancarkan aksinya.
Kekinian, terungkap bahwa kampanye online melawan Paty yang berujung pada kasus pembunuhan tersebut didasarkan pada pengakuan yang menyimpang tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelas. Surat kabar Le Parisien melaporkan bahwa siswi berinisial Z tersebut telah mengakui kebohongannya.
Z disebut telah mengaku kepada hakim anti-teroris yang menyelidiki bahwa dia telah berbohong. Pada kenyataannya, Z bahkan tidak berada dalam kelas dimana Paty menunjukkan karikatur kontroversial dari surat kabar satir Charlie Hebdo tersebut.
"Dia tidak akan berani mengakui kepada ayahnya alasan sebenarnya dia dikeluarkan sesaat sebelum tragedi itu," demikian kutipan laporan Le Parisien, Minggu (7/3). "Yang sebenarnya terkait dengan perilakunya yang buruk."
Sementara itu, Z dilaporkan tetap berpegang teguh pada klaimnya hingga polisi memberitahu bahwa teman sekelasnya telah mengkonfirmasi ketidakhadirannya di dalam kelas tersebut. Pihak penyelidik dilaporkan menilai Z sebagai sosok yang sangat mengabdi kepada ayahnya.
Pengacara Z, Mbeko Tabula, lantas menegaskan bahwa tragedi ini tak boleh dijatuhkan ke pundak gadis yang baru berusia 13 tahun tersebut. Menurutnya, reaksi ayah Z sendiri yang memang berlebihan.
"Itu adalah perilaku ayah yang berlebihan, membuat dan memposting video yang memberatkan profesor yang menyebabkan spiral ini," tutur Tabula kepada Le Parisien. "Klien saya memang berbohong, tetapi meskipun itu benar, reaksi ayahnya masih tidak proporsional."
(wk/Bert)