Sudah Masuk RI, Varian Corona B117 Diduga Bermutasi di Dalam Tubuh Dengan Sistem Imun Lemah
Unsplash/Viktor Forgacs
Health
Mutasi Corona Masuk Indonesia

Profesor Mikrobiologi Klinis di Universitas Cambridge, Ravindra Gupta, dan timnya sedang mempelajari pasien COVID-19 yang telah terinfeksi virus secara kronis selama lebih dari 100 hari.

WowKeren - Varian baru virus corona (COVID-19) hasil mutasi ditemukan di berbagai belahan dunia dan diketahui telah masuk ke Tanah Air. Hal ini lantas membuat masyarakat Indonesia semakin was-was. Padahal pada kenyataannya, mutasi virus adalah hal yang normal.

Salah satu kasus mutasi yang telah masuk ke Indonesia adalah varian corona yang pertama kali ditemukan di Inggris atau yang disebut sebagai B117. Varian ini disebut memiliki banyak 23 mutasi dan bahkan mengejutkan para ilmuwan.

"Kami telah belajar selama setahun bahwa virus ini tidak berubah. Itu selalu sama. Ada beberapa mutasi di sana-sini," tutur Profesor Mikrobiologi Klinis di Universitas Cambridge, Ravindra Gupta, dilansir Global News pada Rabu (17/3). "Kami tidak tahu bahwa Anda dapat menemukan virus dengan begitu banyak mutasi pada satu virus."

Gupta merupakan seorang ahli virus terkenal di dunia yang bekerja di laboratorium dan sebagai dokter penyakit menular. Sebelum varian B117 ditemukan, Gupta dan timnya sedang mempelajari pasien COVID-19 yang telah terinfeksi virus secara kronis selama lebih dari 100 hari. "Pada orang ini, kami melihat perubahan paling dramatis yang dapat Anda bayangkan," ungkap Gupta.

Sebagai informasi, virus akan berkembang biak dengan membuat salinan dirinya sendiri, namun salinan tersebut tak selalu sama. Saat SARS-CoV-2 bereplikasi, kesalahan penyalinan kecil yang dikenal sebagai mutasi dapat terjadi.


Sedangkan orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah dapat sulit melawan dan membunuh virus. Hal ini memungkinkan virus untuk terus bereplikasi selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, dan menghasilkan lebih banyak mutasi.

Sementara itu, pasien COVID-19 yang dipelajari oleh tim Gupta ini menderita kanker. Karena sistem kekebalan pasien tersebut dilemahkan oleh kemoterapi, ia kesulitan menyingkirkan virus.

"Yang kami lakukan adalah mengisolasi virus dari sampel yang berbeda tersebut. Dan kemudian kami mengurutkannya untuk mencari tahu secara spesifik virus apa yang dimiliki pasien," terang Steven Kemp yang turut bekerja dengan Gupta. "Dan yang kami perhatikan adalah pasien mengembangkan sejumlah mutasi yang berbeda."

Sebagai contoh, pasien COVID-19 tersebut menjalani terapi plasma konvalesen. Setelah itu, para peneliti pun melihat bahwa struktur genetik virus mulai bergeser. "Ketika (plasma konvalesen) diberikan kepada pasien ini, tampaknya sejumlah mutasi muncul," ungkap Kemp.

Menurut Gupta, salah satu mutasi membuat mereka menemukan varian B117. Pasalnya, mutasi virus pada pasien yang diamati Gupta merupakan salah satu mutasi kunci yang ditemukan pada B117.

Para ahli pun percaya bahwa varian B117 yang ditemukan di Inggris mungkin bermutasi dalam seorang pasien yang memiliki gangguan kekebalan. "Kami belum bisa mengidentifikasi siapa Pasien 0 untuk jenis B117. Saya tahu bahwa sejumlah orang telah mencarinya," pungkas Gupta.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts