Belum lama ini, Arda Naff membeberkan bila statusnya sebagai vokalis band sempat membuatnya tinggi hati. Namun sifat buruk tersebut cepat-cepat disadari oleh Arda Naff.
- Zahida
- Rabu, 19 Mei 2021 - 16:16 WIB
WowKeren - Hatna Danarda alias Arda Naff lahir dan besar dari keluarga yang sederhana. Ia pun mencoba peruntungan dengan mengikuti ajang pencarian bakat "Indonesian Idol" pada sekitar tahun 2008. Tak berselang lama, nasib baik pun mendekati Arda.
Pada tahun 2010, pria kelahiran Madiun, Jawa Timur ini didapuka menjadi vokalis band Naff. Ia terpilih setelah mengikuti serangkaian seleksi untuk menggantikan posisi Ady sebagai vokalis. Rezeki tersebut rupanya sempat membuat Arda Naff tinggi hati.
Arda pun menceritakan sedikit pengalamannya tersebut melalui salah satu unggahan dalam Instagram pribadinya. Lewat unggahan tersebut ia bahkan terang-terangan mengaku pernah sombong lantaran terpilih menjadi vokalis band.
"Pernah sombong itu ternyata perlu, lha kok? Iya, orang-orang yang "pernah" pasti melewati satu tahap dalam hidupnya," beber Arda Naff. "Pernah sombong iya itu saya."
Arda mengakui sempat memiliki cita-cita untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi. Namun apa daya, orangtuanya hanyalah seorang penjual kue. Tak patah semangat, Arda pun mencoba peruntungan lain hingga akhirnya menjadi seorang musisi.
"Ternyata menjadi anak daerah, anak tukang kue yg pupus cita-citanya untuk sekolah setinggi mungkin menaruh beban besar dipundaknya," imbuhnya. "Alhasil seluruh langkahnya upaya pembuktian. Eh ladadah malah nyemplung jd musisi."
Ketika itu, Arda yang dicap sebagai seorang artis ini lantas ditinggal oleh sejumlah rekan-rekan sekolahnya dulu. Sebab setiap pulang ke kampung halamannya, ingar bingar nama artis seolah terus mengikutinya.
"Dicap artis pulak, ya wajar dagunya agak naik dikit kala itu," sambung suami Tantri Kotak ini. "Pulang ke kampung halaman belum melepaskan jubahnya sbg Arda Naff ya kabur teman-teman."
Kendati demikian, Arda Naff akhirnya sadar diri mengenai tempat asalnya dulu. Ia lantas tak lagi risi menjalani kehidupannya seperti dulu kala saat di kampung halamannya.
"Ajaibnya beban itu roboh," pungkasnya. "Saya mau naik sepeda, naik angkot, makan pecel koloran looosss, justru bara api karya saya dapatkan darisana."
(wk/Zahi)