Studi Ungkap Setengah Dari Kosmetik yang Dijual di AS Kemungkinan Mengandung Bahan Kimia Beracun
Unsplash/Raphael Lovaski
Dunia

Hasil studi ini diumumkan pada saat sekelompok senator bipartisan AS memperkenalkan rancangan undang-undang (RUU) untuk melarang penggunaan PFAS dalam kosmetik dan produk kecantikan lain.

WowKeren - Studi baru menunjukkan bahwa lebih dari separuh produk kosmetik yang dijual di Amerika Serikat (AS) dan Kanada kemungkinan mengandung senyawa industri beracun tingkat tinggi. Kandungan tersebut juga terkait dengan kondisi kesehatan serius, termasuk kanker dan penurunan berat badan bayi baru lahir.

Studi tersebut dilakukan oleh para peneliti di Universitas Notre Dame yang menguji lebih dari 230 kosmetik yang biasa digunakan. Hasilnya, kandungan fluorin tingkat tinggi ditemukan dalam 56 persen alas bedak (foundation) dan produk mata, 48 persen produk bibir, dan 47 persen maskara. Ini merupakan indikator dari adanya bahan kimia "abadi" PFAS (Perfluorinated Alkylated Substances) yang biasa digunakan di teflon anti lengket hingga karpet.

Berdasarkan studi yang diterbitkan di jurnal Environmental Science & Technology Letters tersebut, beberapa tingkat PFAS tertinggi ditemukan pada maskara tahan air (82 persen) dan lipstik tahan lama (62 persen). Para peneliti lantas mengambil 29 produk kosmetik dengan konsentrasi flourin tinggi untuk diuji lebih lanjut.

Hasilnya, ditemukan antara empat dan 13 bahan kimia PFAS spesifik dalam produk-produk tersebut. Namun hanya ada satu item kosmetik yang mencantumkan PFAS sebagai bahan di labelnya.


Graham Peaslee selaku peneliti utama studi tersebut menyatakan bahwa hasilnya mengejutkan. Pasalnya, tutur Peaslee, kosmetik tidak hanya menimbulkan risiko langsung bagi pengguna, tetapi juga menimbulkan risiko jangka panjang.

"PFAS adalah bahan kimia yang persisten. Ketika masuk ke aliran darah, ia menetap di sana dan terakumulasi," ujar Peaslee. Selain itu, Peaslee juga mengungkapkan bahwa PFAS turut menimbulkan risiko pencemaran lingkungan yang terkait dengan pembuatan dan pembuangannya.

Adapun hasil studi ini diumumkan pada saat sekelompok senator bipartisan AS memperkenalkan rancangan undang-undang (RUU) untuk melarang penggunaan PFAS dalam kosmetik dan produk kecantikan lain. Badan Perlindungan Lingkungan juga bergerak untuk mengumpulkan data industri tentang penggunaan bahan kimia PFAS dan risiko kesehatannya.

"Tidak ada yang aman dan tidak ada yang baik tentang PFAS," tutur Senator Richard Blumenthal yang memperkenalkan RUU tersebut. "Bahan kimia ini adalah ancaman yang tersembunyi di depan mata hingga orang-orang menampilkannya di wajah mereka setiap hari."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts