Turki Mundur Dari Perjanjian Anti-Kekerasan Terhadap Wanita, Presiden Erdogan Buka Suara
Dunia

Imbas keputusan tersebut, ratusan wanita menggelar unjuk rasa di Istanbul dan menyuarakan protes mereka pada Kamis (1/7). Aksi serupa juga digelar di beberapa kota Turki lainnya.

WowKeren - Turki resmi menarik diri dari perjanjian internasional yang melindungi wanita dari kekerasan pada Kamis (1/7). Meski demikian, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bersikeras bahwa keputusan tersebut tak akan menjadi langkah mundur bagi kaum wanita di negaranya.

Imbas keputusan tersebut, ratusan wanita menggelar unjuk rasa di Istanbul dan menyuarakan protes mereka. Aksi serupa juga digelar di beberapa kota Turki lainnya.

Erdogan sendiri telah menarik Turki dari perjanjian bertajuk Konvensi Istanbul tersebut pada Maret 2021 lalu. Namun pengadilan baru menolak permohonan untuk membatalkan penarikan tersebut pada Kamis kemarin.

Presiden Erdogan lantas mengumumkan "Rencana Aksi Memerangi Kekerasan terhadap Wanita" pada Kamis kemarin. Rencana tersebut mencakup sejumlah target capaian seperti meninjau proses peradilan, meningkatkan layanan perlindungan dan mengumpulkan data tentang kekerasan.


"Beberapa kelompok mencoba untuk menyatakan bawha penarikan resmi kami dari konvensi Istanbul pada 1 Juli sebagai kemunduran," ujar Erdogan. "Sama seperti perjuangan kami melawan kekerasan terhadap wanita tidak dimulai dengan Konvensi Istanbul, itu (perjuangan melawan kekerasan terhadap wanita) tidak akan berakhir dengan penarikan kami."

Selain itu, Erdogan juga menekankan pentingnya nilai- nilai keluarga dan gender tradisional. Menurutnya, memerangi kekerasan terhadap perempuan juga merupakan perjuangan untuk "melindungi hak dan kehormatan ibu, istri, anak perempuan kita".

Di sisi lain, kelompok wanita, LGBT, dan kelompok lainnya telah memprotes keputusan tersebut. Pilar Konvensi Istanbul yang terdiri dari pencegahan, perlindungan, penuntutan pidana dan koordinasi kebijakan, serta identifikasi kekerasan berbasis gender dinilai sangat penting untuk melindungi kaum wanita di Turki.

Para pengunjuk rasa memegang spanduk warna-warni, bendera feminis dan pelangi, memainkan musik, bersiul, dan meneriakkan slogan di jalan pejalan kaki utama Istanbul. Polisi sempat menutup daerah itu tetapi kemudian secara singkat memindahkan barikade untuk memungkinkan pawai singkat.

Sebelumnya, Amnesty International menyebut bahwa penarikan Turki dari Konvensi Istanbul ini "memalukan". Adapun data milik kelompok "We Will Stop Femicide" menunjukkan bahwa pada tahun 2021 saja, sudah ada 189 yang tewas terbunuh di Turki. Sedangkan tahun lalu angkanya mencapai 409 jiwa.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait