Sama Dengan Nadiem, UNICEF Nilai Sekolah Tutup Terlalu Lama Pengaruhi Perkembangan Anak
UNICEF
Dunia

UNICEF menyatakan bahwa pandemi mencuri kesempatan banyak anak-anak untuk merasakan hari pertama sekolah. Penutupan sekolah yang lama juga dinilai berisiko membahayakan perkembangan dan kesehatan mental anak.

WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) membuat banyak sektor harus dialihkan secara online, termasuk pendidikan. UNICEF menyatakan bahwa pandemi COVID-19 mencuri kesempatan banyak anak-anak untuk merasakan hari pertama sekolah.

Penutupan sekolah yang sedang berlangsung disebut UNICEF berisiko membahayakan perkembangan dan kesehatan mental anak. Di Thailand misalnya, banyak anak telah kehilangan kesempatan pembelajaran tatap muka selama berbulan-bulan karena sekolah tutup.

Diketahui, sekolah-sekolah di Thailand terpaksa ditutup karena adanya peningkatan COVID-19 awal tahun ini, yang kemudian menjadi gelombang terburuk yang melanda negara tersebut sejak awal pandemi. Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore mengungkapkan bahwa pihaknya baru-baru ini melakukan survei terhadap anak-anak muda Thailand yang menunjukkan bahwa hilangnya pembelajaran secara langsung telah berdampak signifikan pada kesehatan mental mereka.

"Hari pertama sekolah adalah momen penting dalam kehidupan seorang anak. Sebagian besar dari kita dapat mengingat detail kecil yang tak terhitung jumlahnya – pakaian apa yang kita kenakan, nama guru kita, siapa yang duduk di sebelah kita. Tetapi bagi jutaan anak, hari penting itu telah ditunda tanpa batas waktu," tutur Fore dilansir Thaiger, Kamis (26/8).

Menurut Fore, ada risiko beberapa anak di sektor masyarakat yang paling rentan tidak akan pernah melihat bagian dalam ruang kelas. Ia mengungkapkan bahwa jutaan siswa kelas satu telah menunggu untuk melihat bagian dalam ruang kelas selama lebih dari setahun di banyak bagian dunia.


"Jutaan lebih mungkin tidak akan melihat bagian dalam ruang kelas sama sekali di semester sekolah ini," kata Fore. "Untuk yang paling rentan, risiko untuk tidak pernah masuk ke ruang kelas seumur hidup mereka meroket."

Lebih lanjut, Fore mengatakan bahwa tahun pertama sekolah menetapkan dasar untuk pembelajaran di masa depan dan mengajarkan anak-anak untuk menjadi mandiri, mengikuti rutinitas, dan membangun hubungan dengan teman sebayanya. Hal tersebut membuat guru bisa mengidentifikasi masalah perkembangan atau masalah kesehatan mental pada siswa, serta mengidentifikasi tanda-tanda potensi kekerasan.

UNICEF mengatakan penutupan sekolah yang diperpanjang mengakibatkan hilangnya pembelajaran dan tekanan mental, sekaligus meningkatkan risiko siswa putus sekolah. Fore menambahkan bahwa anak-anak bungsu, pada tahap kritis dalam pembelajaran mereka, akan terkena dampak terburuk.

Hal senada sebelumnya juga sempat disampaikan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) RI Nadiem Makarim. Dalam beberapa kali kesempatan, Nadiem telah menyatakan bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi beban mental untuk para siswa.

Selain itu, PJJ juga dikhawatirkan Nadiem bisa membuat siswa tertinggal dalam pembelajaran sehingga bisa membahayakan perkembangan generasi masa depan. Oleh sebab itu, Nadiem terus mendorong pembukaan sekolah meski pandemi COVID-19 masih berlangsung.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait