Reaktor 5 megawatt di Fasilitas Riset Nuklir Yongbyon telah menunjukkan indikasi penggunaan. Reaktor nuklir ini mampu menghasilkan plutonium tingkat senjata.
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 30 Agustus 2021 - 16:00 WIB
WowKeren - Sebuah laporan baru oleh Badan Energi Atom Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (IAEA) menunjukkan Korea Utara mulai mengoperasikan reaktor nuklir Yongbyon. Reaktor nuklir ini mampu menghasilkan plutonium tingkat senjata, dan lebih dari 2,5 tahun tidak dioperasikan.
Reaktor 5 megawatt di Fasilitas Riset Nuklir Yongbyon telah menunjukkan indikasi penggunaan sejak bulan lalu, menurut laporan IAEA, yang diserahkan kepada dewan gubernur badan tersebut pada hari Jumat (27/8). Laporan itu menyimpulkan bahwa reaktor tersebut mulai aktif lagi lantaran munculnya beberapa indikasi.
"Tidak ada indikasi operasi reaktor dari awal Desember 2018 hingga awal Juli 2021," kata laporan itu. "Namun, sejak awal Juli 2021 sudah ada indikasi, antara lain keluarnya air pendingin, sejalan dengan beroperasinya reaktor."
IAEA sendiri sudah tidak memiliki akses ke Korea Utara sejak 2009, sejak Pyongyang mengusir inspekturnya. Badan ini hanya mampu memantau aktivitas di fasilitas tersebut dengan menggunakan citra satelit.
Laporan itu juga mendeteksi operasi di pembangkit listrik tenaga uap yang melayani laboratorium radiokimia di Yongbyon dari Februari hingga Juli, jangka waktu yang dikatakan "konsisten dengan waktu yang dibutuhkan untuk memproses ulang inti lengkap bahan bakar iradiasi dari reaktor 5MW(e)."
Laporan ini juga mengatakan bahwa indikasi pengoperasian reaktor nuklir menimbulkan keresahan. Selain itu, program nuklir negara yang dipimpin oleh Kim Jong Un tersebut dianggap sebagai pelanggaran.
"Indikasi baru pengoperasian reaktor 5MW(e) dan Laboratorium Radiokimia sangat meresahkan," kata laporan itu. "Kelanjutan program nuklir DPRK jelas merupakan pelanggaran terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan dan sangat disesalkan."
Laporan itu muncul usai Korea Utara telah berulang kali mengecam latihan militer gabungan AS-Korea Selatan yang diadakan bulan ini. Korea Utara menyebutnya sebagai "latihan perang" dan memperingatkan negara tetangganya bahwa itu bisa memicu krisis keamanan. Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Korea Utara mengutuk latihan itu sebagai ekspresi paling jelas dari kebijakan bermusuhan AS terhadap mereka.
(wk/zodi)