Sebelumnya, Taliban telah berjanji untuk menghormati hak-hak perempuan dalam norma-norma Islam namun banyak yang meragukan hak-hak perempuan di bawah kelompok itu.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 31 Agustus 2021 - 18:53 WIB
WowKeren - Menteri Pendidikan Tinggi Taliban Abdul Baqi Haqqani pada Minggu (29/8) mengumumkan bahwa perempuan akan diizinkan untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi yang ada di negara itu. Namun, France24 melaporkan bahwa kebijakan itu juga menyertakan syarat khusus.
Kelas mahasiswi nantinya akan dipisah dari kelas mahasiswa. Salah satu kebijakan umum di Afghanistan adalah anak perempuan dan laki-laki juga akan belajar di kelas yang berbeda di sekolah dasar dan menengah.
Sebelumnya, Taliban telah berjanji untuk menghormati hak-hak perempuan dalam norma-norma Islam. Namun menurut Associated Press sentimen publik tetap pesimis terhadap hak-hak perempuan di bawah pemerintahan Taliban. Dalam aturan Taliban sebelumnya, anak perempuan dan wanita tidak diizinkan bersekolah, sebagaimana dilaporkan Financial Times.
Selama pemerintahan Taliban sebelumnya, perempuan tidak diizinkan pergi ke sekolah dan bekerja, dan hukuman seperti rajam juga diterapkan. Meskipun kelompok tersebut secara terbuka berjanji untuk menghormati hak-hak perempuan, masih belum jelas apakah perempuan dapat bekerja, belajar, dan bersosialisasi dengan rekan-rekan laki-laki mereka.
"Orang-orang Afghanistan akan melanjutkan pendidikan tinggi mereka berdasarkan hukum Syariah," kata Haqqani melansir France24. "Dengan aman tanpa berada di lingkungan campuran antara pria dan wanita."
Menurutnya, Taliban ingin menciptakan kurikulum yang masuk akal dan Islami, yang sejalan dengan nilai-nilai Islam, nasional maupun sejarah. Dan yang tak kalah penting, mampu bersaing dengan negara lain. Saluran berita Afghanistan TOLOnews melaporkan bahwa Haqqani juga menjanjikan lingkungan pendidikan yang aman bagi perempuan.
Banyak wanita yang skeptis dengan niat Taliban. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh The Guardian, seorang sarjana Afghanistan di Kabul mengungkapkan ketakutan dan kekhawatirannya. Ada juga mantan guru bahasa Inggris yang mengungkapkan kesedihannya ketika memikirkan masa depan murid-muridnya.
Sementara itu, Beheshta Arghand, reporter wanita Afghanistan dilaporkan telah meninggalkan negara itu, menurut CNN. Ia adalah wanita Afghanistan yang membuat sejarah dengan mewawancarai seorang perwakilan senior Taliban. Ia kemudian mewawancarai Malala Yousafzai, seorang aktivis yang selamat dari pembunuhan Taliban. Perusahaan Arghand, TOLO, mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya Yousafzai diwawancarai di televisi Afghanistan.
(wk/zodi)