Dalam proses interogasi, pria Austria tersebut mengakui bahwa ia membekukan jenazah ibunya dengan kantong es di ruang bawah tanah untuk mencegah timbulnya bau.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 10 September 2021 - 15:06 WIB
WowKeren - Seorang pria di Austria dilaporkan telah mengubah jenazah ibunya sendiri menjadi mumi dan menyimpannya di ruang bawah tanah. Pria tersebut menyimpan jenazah sang ibu yang meninggal lebih dari setahun lalu itu untuk terus menerima tunjangannya.
Polisi Austria mengungkapkan bahwa wanita berusia 89 tahun yang diyakini menderita demensia tersebut telah meninggal dunia sejak Juni tahun lalu. "Pria berusia 66 tahun itu menjaga tubuhnya untuk terus menerima tunjangan," jelas kepolisian Austria dilansir The Guardian.
Tersangka selama ini tinggal bersama ibunya dekat Innsbruck di wilayah Tyrol. Dalam proses interogasi, pria tersebut mengakui bahwa ia membekukan jenazah ibunya dengan kantong es di ruang bawah tanah untuk mencegah timbulnya bau.
Jenazah tersebut kemudian dibungkusnya dengan perban untuk menyerap cairan tubuh. "Dia menutupi ibunya dengan kotoran kucing dan akhirnya mayat itu menjadi mumi," ungkap Helmut Gufler selaku penanggung jawab Unit Penipuan Jaminan Sosial Polisi, kepada penyiar publik ORF.
Kala didatangi saudara laki-lakinya, tersangka mengaku bahwa sang ibu tengah berada di rumah sakit. Setiap bulannya, tersangka akan mendapatkan tunjangan sang ibu melalui pos.
Namun seorang tukang pos baru belakangan meminta untuk bertemu langsung dengan sang ibu selaku penerima tunjangan. Kala tersangka menolak, tukang pos tersebut melapor ke pihak berwenang.
Mayat sang ibu kemudian ditemukan pada Sabtu (4/9). Sejak kematian sang ibu pada Juni 2020, pria tersebut telah berhasil mengantongi tunjangan sebesar EUR 50 ribu atau setara Rp 840,32 juta.
Meski demikian, hasil otopsi menunjukkan bahwa pria tersebut tidak membunuh sang ibu. Tersangka hanya dituduh melakukan penipuan tunjangan dan menyembunyikan mayat.
Dalam berita lain, Austria sempat menolak masuknya pengungsi Afghanistan ke negara tersebut. "Tujuannya adalah untuk mempertahankan mayoritas orang di kawasan itu," ujar Menteri Dalam Negeri Austria Karl Nehammer.
Selain itu, Uni Eropa harus mempersenjatai diri melawan apa yang dilihat Nehammer sebagai kemungkinan imigrasi tidak teratur dengan melakukan upaya lebih lanjut dalam perlindungan perbatasan eksternal. Ia menolak "beban" lebih lanjut dan menjelaskan bahwa Austria sudah menjadi rumah bagi komunitas Afghanistan terbesar kedua di Uni Eropa, dengan 44.000 warga Afghanistan.
(wk/Bert)