Jajak pendapat yang digelar Associated Press dan NORC Center for Public Affairs Research menjelang peringatan 9/11 menunjukkan bahwa 53 persen orang Amerika memiliki pandangan yang tidak baik terhadap Islam.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 10 September 2021 - 16:23 WIB
WowKeren - Amerika Serikat (AS) akan memperingati 20 tahun terjadinya Tragedi World Trade Center (WTC) pada 11 September 2021. Tragedi yang lebih dikenal dengan nama 9/11 ini merupakan salah satu momen terkelam dan serangan teror terburuk dalam sejarah AS.
Tragedi ini turut membayangi banyak kaum Muslim di AS. Banyak di antara mereka yang harus menghadapi permusuhan dan pengawasan, hingga ketidakpercayaan dan kecurigaan. Iman Muslim mereka dipertanyakan dan ke-Amerikaan mereka diragukan.
Jajak pendapat yang digelar Associated Press dan NORC Center for Public Affairs Research menjelang peringatan 9/11 menunjukkan bahwa 53 persen orang Amerika memiliki pandangan yang tidak baik terhadap Islam. Sedangkan 42 persen memiliki pandangan yang baik.
Sementara itu, jajak pendapat orang Amerika tentang agama Kristen dan Yudaisme menunjukkan hasil yang berbeda. Sebagian besar responden menyatakan memiliki pandangan baik terhadap agama-agama tersebut.
Adapun pandangan tidak baik terhadap kaum Muslim memang tidak dimulai dengan Tragedi 9/11. Namun serangan tersebut telah meningkatkan rasa permusuhan terhadap kaum Muslim secara dramatis di AS.
Melansir Associated Press, seorang wanita Muslim bernama Shahana Hanif mengungkapkan pengalaman tak menyenangkan yang dialaminya pada tahun 2001, beberapa minggu setelah WTC diserang. Kala itu, Hanif yang masih berusia 10 tahun dan adik perempuannya tengah berjalan dari rumah mereka di Brooklyn ke masjid setempat.
Tiba-tiba, pengemudi mobil yang melewati mereka menurunkan kaca jendela dan meludahi dua gadis kecil berhijab tersebut. "Teroris!" teriak pria tersebut. Hal itu membuat Hanif dan adiknya ketakutan hingga memutuskan untuk berlari.
Menjelang peringatan 20 tahun Teror 9/11, Hanif masih bisa mengingat perasaannya saat itu. Ia terkejut dan bingung, bagaiaman bisa orang memandangnya yang kala itu masih anak-anak sebagai ancaman.
"Itu bukan kata yang bagus dan baik. Artinya kekerasan, artinya berbahaya. Ini dimaksudkan untuk mengejutkan siapa pun ... yang menerimanya," ungkap Hanif.
Meski demikian, insiden tersebut mendorong Hanif untuk berani berbicara bagi dirinya sendiri dan orang lain. Ia kini menjadi seorang organisator komunitas yang difavoritkan untuk memenangkan kursi di Dewan Kota New York dalam pemilihan kota yang akan datang.
Kala muda, Hanif juga sempat mengumpulkan teman-teman lingkungan, dan sepupu yang lebih tua membantu mereka menulis surat kepada Presiden George W. Bush untuk meminta perlindungan. "Kami tahu bahwa kami akan menjadi seperti pejuang komunitas ini," katanya.
Pengalaman serupa tapi tak sama dialami oleh seorang gadis Muslim berusia 17 tahun bernama Amirah Ahmed. Meski lahir pasca Tragedi 9/11, Ahmed merasa seakan didorong ke dalam perjuangan yang tidak dibuatnya sendiri.
Gadis berhijab tersebut mengungkapkan bahwa pada peringatan 9/11 di sekolahnya di Virginia beberapa tahun lalu, dirinya menerima tatapan yang intens dari para siswa lain. Tatapan tersebut membuatnya merasa sangat tidak nyaman sampai-sampai ia ingin melewatkan acara peringatan 9/11 di tahun selanjutnya.
Namun sang ibu melarangnya melewatkan acara peringatan 9/11 tersebut. Ahmed akhirnya mengenakan ke-Amerikaannya sebagai tameng dengan memakai jilbab bermotif bendera Amerika untuk berbicara dengan teman-teman sekelasnya dari podium.
Dari atas podium, Ahmed berbicara tentang menghormati para korban yang tewas di Amerika dalam tragedi 9/11. Namun ia juga berbicara tentang warga Irak yang tewas dalam perang yang diluncurkan pada tahun 2003.
Ahmed ingat dirinya kala itu membela identitas Arab dan Muslimnya, sembari menunjukkan identitas Amerika-nya. Menurutnya, itu adalah momen yang sangat kuat. Ahmed pun berharap agar anak-anaknya di masa depan tak merasa perlu membuktikan bahwa mereka pantas.
"Anak-anak kita akan berada (di sini) jauh setelah era 9/11," katanya. "Mereka seharusnya tidak perlu terus berjuang untuk identitas mereka."
(wk/Bert)