PM Jepang Baru Harus Bekerja Cepat Soal Penanganan COVID-19 Hingga Ketegangan Dengan Tiongkok
Unsplash/Colton Jones
Dunia

Pemerintah Jepang akan memilih Perdana Menteri (PM) yang baru usai Yoshihide Suga mengundurkan diri. Pemerintah pun menyampaikan mengenai isu yang harus ditangani dengan cepat.

WowKeren - Jepang tengah mempersiapkan pemilihan Perdana Menteri (PM) yang baru usai Yoshide Suga memutuskan untuk mengundurkan diri beberapa waktu lalu. Anggota partai pemerintah sendiri diketahui telah memilih 4 kandidat sebagai pengganti PM yang lama.

Pemerintah menegaskan bahwa siapapun nantinya yang terpilih sebagai PM Jepang baru menggantikan Suga, ia harus dengan cepat mengatasi masalah perekonomian imbas pandemi COVID-19, militer yang baru diberdayakan yang beroperasi di lingkungan berbahaya, hubungan penting dengan sekutu yang berfokus ke dalam, Washington, serta kebuntuan keamanan yang tegang dengan Tiongkok yang berani dan sekutunya Korea Utara.

Melansir Asahi, bagi Partai Demokrat Liberal siapapun yang terpilih menjadi PM Jepang baru, partai sangat memerlukan ide-ide baru untuk segera membalikkan dukungan publik menjelang pemilihan majelis rendah yang akan datang dalam kurun waktu dua bulan. Hal ini disampaikan oleh seorang pengamat.

Adapun empat kandidat PM Jepang adalah Sanae Takaichi, Seiko Noda, Taro Kono yang merupakan Menteri Vaksinasi, dan mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) Fumio Kishida. Semua kandidiat ini disebut mendukung hubungan kemitraan keamanan Jepang-AS yang erat dengan negara-negara demokrasi yang berpikiran sama di Asia dan Eropa. Sebagian disebut sebagai cara untuk melawan pengaruh Tiongkok yang semakin besar.


Sementara itu, Kono dan Kishida dalam mantan diplomat top. Mereka dan Noda telah menekankan perlunya dialog dengan Tiongkok sebagai tetangga dan mitra dagang yang penting. Selain itu, keempat kandidat itu mendukung untuk mempertahankan "hubungan praktis" yang erat dengan Taiwan.

Seperti yang diketahui, Taiwan merupakan pulau berpemerintahan sendiri yang diklaim Tiongkok sebagai miliknya. Kemudian, niatnya untuk bergabung dengan blok perdagangan Kemitraan Trans-Pasifik dan organisasi internasional lainnya.

Selain permasalahan yang telah disebutkan, keempat kandidat PM Jepang itu juga membahas mengenai isu diplomasi, ekonomi, energi, pertahanan, dan juga kesetaraan gender, serta keragaman seksual. Adapun hal-hal itu merupakan isu yang jarang dibahas oleh partai konservatif.

"Dimasukkannya gender dan keragaman menandakan bahwa partai tahu bahwa mereka tidak dapat terus mengabaikan masalah ini," terang Ryosuke Nishida seorang profesor sosiologi dan kebijakan publik Institut Teknologi Tokyo.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts