Kim Jong Un menegaskan negaranya tidak berniat memicu perang meski terus meningkatkan kekuatan persenjataan, melainkan demi mempertahankan diri dari sikap agresif Amerika Serikat.
- Elvariza Opita
- Selasa, 12 Oktober 2021 - 15:32 WIB
WowKeren - Pimpinan Korea Utara Kim Jong Un menyampaikan pernyataan keras terhadap Amerika Serikat. Kim Jong Un menilai AS-lah yang menjadi penyebab peningkatan ketegangan di Semenanjung Korea, yang berarti dimaknai sebagai peruncingan konflik di antara Korea Utara (Republik Demokrat Rakyat Korea / DPRK) dan Korea Selatan (Republik Korea / ROK).
Hal ini disampaikan oleh Kim Jong Un ketika menghadiri hari peringatan 76 tahun berdirinya Partai Buruh (WPK) pada Senin (11/10) waktu setempat. Kim Jong Un membenarkan bahwa negaranya kini tengah memperkuat sistem pertahanan dan persenjataan, termasuk dengan beberapa waktu lalu menggelar uji coba peluncuran misil.
Namun Kim Jong Un memastikan, semua persenjataan ini disiapkan semata demi melindungi diri karena sikap agresif yang ditunjukkan pemerintah AS. Salah satunya dibuktikan dengan pembangunan kerja sama militer dengan Korsel yang dinilai Kim Jong Un mengancam keamanan dan kedamaian di Semenanjung Korea.
"Kami tidak membahas perang dengan siapa pun," tegas Kim Jong Un, dikutip dari media Korut Korea Central News Agency (KCNA) pada Selasa (12/10). "Melainkan untuk mencegah perang itu sendiri dan secara harfiah meningkatkan pencegahan perang untuk perlindungan kedaulatan nasional."
AS pun sebelumnya telah membantah sikap agresif mereka terhadap Korut yang terang-terangan dimentahkan Kim Jong Un. "Semua pernyataan itu sulit dipercaya karena (kita) menghadapi perlakuan dan penilaian yang salah secara terus-menerus," tutur Kim Jong Un.
Kim Jong Un pada kesempatan itu juga mendesak jajaran pemerintahannya untuk meningkatkan taraf kehidupan dan kesejahteraan warga Korut. Kim Jong Un juga memastikan partainya tetap bekerja keras, terutama dalam mengeksekusi secara efisien, rencana ekonomi lima tahun termasuk untuk menjamin ketersediaan pangan dan tempat tinggal untuk warga Korut.
Di sisi lain, pemerintahan Kim Jong Un menunjukkan sikap lebih melunak terkait komunikasi dengan Korsel. Hal ini terbukti dari komunikasi kedua negara yang sudah kembali terjalin setelah Korut menutupnya pada bulan Agustus 2021 kemarin.
(wk/elva)