Pada bulan Agustus ada sekitar 892.000 pekerja di sektor akomodasi dan layanan makanan yang berhadapan dengan pelanggan resign di tengah lonjakan kasus COVID-19.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 13 Oktober 2021 - 13:40 WIB
WowKeren - Amerika Serikat mencatat kian banyak pekerjanya yang memutuskan untuk keluar dari pekerjaan mereka. Bahkan peningkatan jumlah ini terus terjadi dengan kecepatan tinggi.
Pada bulan Agustus saja, jumlah orang Amerika yang berhenti dari pekerjaan mereka melonjak sebanyak 4,3 juta. Hal itu sebagaimana diungkapkan oleh Survei Pembukaan Pekerjaan dan Perputaran Tenaga Kerja (JOLTS) terbaru dari Departemen Tenaga Kerja AS.
Jumlah itu sendiri merupakan 2,9 persen dari semua pekerja yang dipekerjakan di AS. Selain itu, ini juga menandai tingkat resign tertinggi yang pernah tercatat. Sementara itu, jumlah lowongan pekerjaan di AS turun menjadi 10,4 juta pada Agustus. Jumlah ini turun dari rekor sebelumnya yang tercatat pada bulan Juli sebesar 11,1 juta pekerjaan.
Melansir Al Jazeera, pada umumnya tingkat resign yang tinggi menandakan jika orang-orang AS memiliki kepercayaan diri terhadap prospek pekerjaan mereka. Namun lebih dari itu, ketika dilihat lebih lanjut menunjukkan bahwa kekhawatiran tertular varian Delta COVID-19 juga bisa mendorong pekerja untuk membuat keputusan resign. Selain karena kekhawatiran akan tertular virus, faktor lain yang tak boleh dilupakan adalah kurangnya pilihan penitipan anak.
Pada bulan Agustus tercatat ada sekitar 892.000 pekerja di sektor akomodasi dan layanan makanan yang berhadapan dengan pelanggan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan mereka di tengah lonjakan kasus COVID-19. Jumlah ini jauh lebih banyak dibanding bulan sebelumnya yakni 157.000.
Fenomena banyaknya orang yang keluar dari pekerjaan dan menjamurnya lowongan pekerjaan telah menjadi sumber keprihatinan yang semakin meningkat untuk pemulihan ekonomi di negara itu. Catatan ekonomi hanya menambahkan hanya ada sekitar 194.000 orang yang dipekerjakan pada bulan September.
Untuk mendorong minat orang-orang, para pelaku bisnis telah menawarkan insentif seperti bonus penandatanganan dan kenaikan upah. Bulan lalu ada sekitar 42 persen pemilik usaha kecil yang menaikkan kompensasi. Jumlah itu naik satu poin dari Agustus dan menandai rekor tertinggi dalam 48 tahun.
(wk/zodi)