Menurut Dr Scott Ratzan selaku ahli komunikasi kesehatan di CUNY yang memimpin penelitian tersebut, satu dari setiap delapan responden survei mengaku lebih suka diobati dengan pil daripada divaksinasi.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 09 November 2021 - 17:09 WIB
WowKeren - Sejumlah pil anti-virus COVID-19 kini mulai bermunculan, seperti produk Merck dan Pfizer. Pil tersebut telah terbukti dapat menumpulkan efek terburuk COVID-19 secara signifikan jika diminum cukup awal.
Meski demikian, para dokter memperingatkan agar orang- orang bisa membedakan manfaat pil tersebut dengan efek pencegahan yang diberikan oleh vaksin. Beberapa ahli penyakit khawatir munculnya pil anti COVID-19 dapat semakin menghambat kampanye vaksinasi.
Hasil awal dari survei terhadap 3.000 warga AS oleh Sekolah Kesehatan Masyarakat Universitas Kota New York (CUNY) menunjukkan bahwa obat-obatan tersebut dapat "menghambat upaya untuk membuat orang divaksinasi". Menurut Dr Scott Ratzan selaku ahli komunikasi kesehatan di CUNY yang memimpin penelitian tersebut, satu dari setiap delapan responden survei mengaku lebih suka diobati dengan pil daripada divaksinasi.
"Itu angka yang tinggi," ujar Dr Ratzan.
Sebagai informasi, Pfizer baru saja mengumumkan bahwa pil antivirus eksperimental Paxlovid dapat mengurangi 89 persen risiko rawat inap dan kematian akibat COVID-19 pada orang dewasa yang berisiko tinggi. Sebelumnya, Merck juga telah mengumumkan bahwa obat antivirus oral mereka Monupiravir mengurangi risiko rawat inap dan kematian hingga setengahnya. Pil dari Merck ini juga telah mendapatkan persetujuan bersyarat di Inggris pekan lalu.
"Dengan mengandalkan secara eksklusif pada obat antivirus, ini seperti sebuah gulungan dadu dalam hal bagaimana Anda akan melakukannya," ujar Dr Peter. Hotez, seorang ahli vaksin dan profesor virologi molekuler dan mikrobiologi di Baylor College of Medicine. "Jelas, ini akan lebih baik daripada tidak sama sekali, tetapi ini adalah permainan berisiko tinggi untuk dimainkan."
Sementara itu, enam ahli penyakit menular yang diwawancarai Reuters antusias tentang prospek pengobatan baru yang efektif untuk COVID-19. Namun mereka juga setuju bahwa pil anti-virus tersebut tidak bisa menjadi pengganti vaksin.
"Saya pikir berita Pfizer adalah berita yang luar biasa. Ini sejalan dengan vaksinasi. Itu tidak menggantikannya," kata Dr Leana Wen, seorang dokter darurat dan profesor kesehatan masyarakat di Universitas George Washington dan mantan komisaris kesehatan Baltimore.
Sedangkan menurut Kepala Eksekutif Pfizer, Dr Albert Bourla, memilih untuk tidak divaksinasi disebutnya akan menjadi kesalahan yang tragis. Dr Bourla menilai obat tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak mendapatkan vaksin.
"Ini adalah perawatan. Ini untuk mereka yang malang yang akan sakit," ujar Dr Bourla. "Ini seharusnya tidak menjadi alasan untuk tidak melindungi diri sendiri dan menempatkan diri sendiri, rumah tangga, dan masyarakat dalam bahaya."
(wk/Bert)