Dampak dari pandemi COVID-19 di Singapura menyebabkan terjadinya kerawanan pangan. Alhasil banyak warga yang berpenghasilan rendah, susah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Rabu, 10 November 2021 - 12:02 WIB
WowKeren - Pandemi COVID-19 yang menyerang Singapura menimbulkan banyak dampak. Saat angka kasus COVID-19 di Singapura melejit naik, tak sedikit orang yang kehilangan pekerjaan, sehingga kehidupan perekonomiannya menjadi merosot.
Selain itu, dampak dari "amukan" COVID-19 juga membuat semakin banyak warga Singapura yang kesusahan memenuhi kebutuhan pangan. Di tempat "surga" makanan dan negara kota kaya seperti Singapura, kerawanan pangan adalah fenomena yang terjadi, terutama saat pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan.
Seperti yang terjadi di negara-negara dunia lainnya, pandemi COVID-19 di Singapura juga "memukul" perekonomian mereka yang berpenghasilan rendah atau pendapatan tidak tetap. Mereka disebut memiliki sedikit jaring pengaman dan upah serta perlindungan tenaga kerja yang tidak memadai untuk menutup kebutuhan sehari-hari.
Pada awal 2021, sebuah studi enam bulan oleh badan amal lokal Beyond Social Services menemukan bahwa pendapatan rumah tangga rata-rata keluarga yang mencari bantuan kelompok, telah turun. Sebelumnya, anggaran bantuan sebesar 1.600 Dollar Singapura (Rp16,9 juta) saat sebelum pandemi COVID-19, kini menjadi 500 Dollar Singapura (Rp5,2 juta).
Sementara berdasarkan studi kedua, yang lebih mengkhawatirkan adalah pada orang-orang yang menyewa rumah susun milik pemerintah antara Juli hingga Desember 2020, ditemukan dampak dari pandemi COVID-19 itu membuat kerawanan pangan menjadi semakin berkepanjangan. Penduduk mengatakan bahwa mereka terkadang mengatasi kekurangan makanan dengan mengisi perut dengan cairan atau tepung.
Selain itu, mereka juga diketahui membeli barang-barang murah dan mengenyangkan, dengan tidak memperhatikan pilihan berdasarkan pertimbangan nilai gizi, melainkan keuangan. Misalnya, beberapa keluarga hanya akan makan satu kali sehari atau memberi anak-anak mereka krimer kopi dengan air panas karena mereka tidak mampu untuk membeli susu formula.
Laporan mengenai kerawanan pangan itu sendiri menjadi peringatan bahwa pandemi COVID-19 dapat menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius, dengan kaitan peningkatan tekanan mental dan perkembangan kondisi kesehatan kronis. Padahal di tahun 2019, Singapura menduduki peringkat sebagai negara paling aman pangan di dunia dalam Indeks Kesehatan Pangan Global.
(wk/tiar)