Putra Diktator Muammar Gaddafi Daftar Jadi Capres Libya, Ternyata Berstatus 'Buron' Internasional
AFP Photo/Imed Lamloum
Dunia

Saif al-Islam Gaddafi yang hidup menjauhi sorotan publik sejak pembebasannya dari kelompok pemberontak secara mengejutkan mencalonkan diri untuk berkompetisi di Pemilihan Presiden Libya.

WowKeren - Peta politik internasional tampaknya diwarnai dengan "bangkitnya" klan-klan diktator masa lalu. Sebelumnya diketahui putra diktator Filipina Ferdinand Marcos, Ferdinand "Bongbong" Marcos Jr., mencalonkan diri sebagai Presiden Filipina 2022.

Kini putra diktator Libya Muammar Gaddafi yang berniat menjadi pemimpin negara tersebut. Saif al-Islam Gaddafi resmi mendaftar sebagai Calon Presiden Libya pada Minggu (14/11) waktu setempat.

Dalam foto-foto dan video yang beredar, tampak Gaddafi menandatangani surat pencalonan diri. Gaddafi tampak mengenakan pakaian tradisional Libya, kini juga wajahnya berjenggot, serta ia terlihat duduk di depan poster bertuliskan tanggal Pemilihan Umum, yakni 24 Desember 2021.

Gaddafi tidak banyak berbicara soal pencalonan dirinya ini. Namun ia sempat mengutip beberapa ayat kitab suci Al Quran.

"Menghakimi antara kami dan orang-orang kami dengan benar," demikian terjemahan ayat pertama yang dikutipnya, dilanjutkan dengan kutipan berikut. "Tuhan selalu menang dalam tujuannya. Bahkan jika orang-orang kafir membencinya."


Pencalonan Gaddafi jelas menjadi sorotan karena statusnya di hukum internasional. Sebagai pengingat, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) sudah mengirimkan surat penahanan untuk Gaddafi terkait dua kejahatan kemanusiaan.

Namun sampai saat ini surat penangkapan tersebut tidak ditanggapi. Gaddafi hingga kini tidak pernah diekstradisi untuk menghadapi tuntutan atas kejahatan yang dituduhkan kepadanya.

Gaddafi selama ini memang hidup jauh dari sorotan publik, terutama setelah pemberontakan yang menewaskan ayahnya pada 2011 silam. Gaddafi ditahan oleh pasukan pemberontak hingga akhirnya dibebaskan dan ia hidup menjauh dari hiruk-pikuk politik.

Aktivis hak asasi dan pengamat lainnya pun mendesak agar Pemilu tetap berlangsung dengan bebas dan adil. Pasalnya Gaddafi diperkirakan akan berhadapan dengan pemimpin Tentara Nasional Libya, Khalifa Hifter.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB / UN) juga mengingatkan adanya sanksi apabila Pemilu di Libya tidak berjalan dengan demokratis terlepas dari kelompok bersenjata serta tentara bayaran yang masih bisa dijumpai di berbagai wilayah negara. Di sisi lain, Muammar Gaddafi sang ayah ditangkap serta dibunuh pada Oktober 2011 di akhir pemberontakan atas rezim diktatornya.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait