Menurut perkiraan industri yang dirilis pada Rabu (17/11), pengeluaran perjalanan bisnis akan melonjak tahun depan namun proses pemulihan diprediksi akan cukup memakan waktu.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 18 November 2021 - 12:02 WIB
WowKeren - Selama pandemi COVID-19 sejak tahun lalu, pembatasan diberlakukan untuk perjalanan tak terkecuali perjalanan bisnis. Namun seiring dengan ditemukannya vaksin dan kasus yang relatif melandai, perjalanan bisnis mulai pulih.
Menurut perkiraan industri yang dirilis pada hari Rabu (17/11), pengeluaran perjalanan bisnis akan melonjak tahun depan menjadi lebih dari 1 triliun dolar AS. Kendati demikian, proses pemulihan diprediksi akan cukup memakan waktu.
Setidaknya diperlukan sekitar dua tahun bagi industri tersebut untuk sepenuhnya pulih dari pandemi COVID-19. Lonjakan tahun ke tahun sebesar 38 persen diharapkan terjadi pada tahun 2022, menurut indeks perjalanan bisnis baru, Outlook BTI, oleh Asosiasi Perjalanan Bisnis Global (GBTA).
Menurut laporan itu, perkiraan lonjakan ini didasarkan pada "pemulihan dan permintaan meningkat ke tingkat yang lebih tinggi," meskipun pemulihan lebih lambat dari pandemi dari yang diharapkan tahun ini. CEO GBTA Suzanne Neufang dalam sebuah pernyataan mengatakan jika perkiraan semacam inilah yang telah dinanti-nanti.
"Dari setiap tahun kami telah mengeluarkan perkiraan BTI Outlook, yang ini adalah yang paling dinanti dan tidak mengejutkan," kata Neufang. "Industri perjalanan bisnis menyadari ada faktor-faktor, terkait dengan COVID-19 dan seterusnya, yang dapat memengaruhi jalan ke depan selama beberapa tahun mendatang."
Pemulihan diharapkan terjadi lebih banyak pada tahun 2023, menurut GBTA. Pemulihan penuh diharapkan pada tahun 2024, dengan pengeluaran 1,48 triliun, yang sedikit di atas pengeluaran pra-pandemi 2019 sebesar 1,4 triliun dolar.
Diketahui, pengeluaran perjalanan bisnis global turun hampir 54 persen pada tahun 2020 menjadi 661 miliar dolar AS. Diperkirakan akan rebound 14 persen tahun ini menjadi 754 miliar dolar, yang lebih lambat dari kenaikan 21 persen year-over-year yang diperkirakan pada Februari.
(wk/zodi)