Peneliti Hong Kong mengusulkan agar vaksin Pfizer-BioNTech disuntikkan di paha alih-alih lengan. Hal ini demi mencegah efek samping myocarditis alias peradangan otot jantung.
- Elvariza Opita
- Jumat, 10 Desember 2021 - 15:11 WIB
WowKeren - Vaksin COVID-19 dikembangkan dengan sejumlah metode berbeda, termasuk mRNA seperti yang ada di produk Pfizer-BioNTech dan Moderna. Meski efikasi vaksin ini cukup tinggi, namun ada efek samping yang cukup dikhawatirkan yakni peradangan otot jantung alias myocarditis yang beberapa kali dialami oleh penerima vaksin berusia muda.
Meski efek samping ini tergolong langka, namun peneliti tetap berusaha mencari cara untuk meminimalisir myocarditis yang bisa ditimbulkan. Termasuk oleh peneliti Hong Kong yang mengemukakan ide untuk menyuntikkan vaksin Pfizer-BioNTech di paha alih-alih di lengan demi mengurangi potensi terjadinya myocarditis.
Penasihat strategi pengendalian COVID-19 Hong Kong menyarankan mengubah lokasi penyuntikan vaksin sehingga Pfizer-BioNTech lebih aman untuk semua kalangan usia. Namun para penasihat ini mendesak pemerintah menjadikannya standar praktik pada penerima vaksin Pfizer-BioNTech berusia remaja.
Tuntutan ini disampaikan setelah Departemen Kesehatan Hong Kong didesak menyikapi kematian wanita berusia 66 tahun pada 16 hari sesudah menerima vaksin Pfizer-BioNTech. Pemeriksaan post-mortem menunjukkan bahwa wanita tersebut menderita myocarditis, di mana terdapat peradangan di otot jantungnya.
"Hubungan sebab akibat dari kasus (myocarditis) dengan vaksinasi masih disimpulkan sebagai ketidakpastian," ungkap otoritas kesehatan setempat dalam siaran persnya secara terpisah. Mereka juga menyatakan tidak ada pola tidak biasa yang diidentifikasi dari penyuntikan vaksin Pfizer-BioNTech dengan myocarditis yang dialami.
Lantas apa kaitan memindahkan lokasi penyuntikan vaksin dengan mengurangi potensi terjadinya myocarditis? Profesor Ivan Hung Fan-ngai sebagai wakil ketua panitia penasihat tersebut, menyatakan kepada Post, bahwa pemindahan lokasi vaksinasi untuk menjauhkan dari jantung.
"(Tempat penyuntikan) harus sejauh mungkin dari jantung, sedangkan (vaksin) harus diinjeksikan melalui limfatik inguinal. Beberapa antigen vaksin memang bisa mencapai jantung," jelas Prof Hung, dikutip dari Today Online pada Jumat (10/12).
Prof Hung juga menilai wanita 66 tahun tersebut bisa saja meninggal bukan karena vaksin Pfizer-BioNTech yang diterimanya, melainkan akibat parvovirus. Parvovirus merupakan bentuk infeksi virus lain yang bisa menimbulkan masalah jantung yang sama.
Sementara Prof Yuen Kwok-yung juga menyepakati usul Prof Hung untuk menyuntikkan vaksin di paha. "Penyuntikan vaksin BioNTech di paha harus dijadikan peraturan untuk penerima remaja," tegas Prof Yuen, merujuk pada kelompok usia yang paling berisiko mengalami myocarditis.
(wk/elva)