WHO kembali menyampaikan perkembangan terkini mengenai karakteristik COVID-19 varian Omicron. Termasuk soal kecepatan penularannya yang diklaim belum dijumpai di varian sebelumnya.
- Elvariza Opita
- Rabu, 15 Desember 2021 - 12:58 WIB
WowKeren - Sejak ditetapkan sebagai varian yang mengkhawatirkan (Variant of Concern / VoC), virus Corona varian Omicron terus menjadi objek penelitian secara luas. Tingginya tingkat mutasi yang ditemukan menimbulkan kekhawatiran varian Omicron memiliki tingkat penularan jauh lebih tinggi daripada varian yang lain, maupun mampu menyebabkan gejala yang lebih parah.
Salah satu karakteristik varian Omicron yang mulai diungkap ke publik adalah soal tingkat penularannya. WHO pada Selasa (14/12) waktu setempat mengingatkan bahwa varian Omicron menyebar dalam kecepatan yang belum pernah ada.
Dengan kata lain, kecepatan penyebaran dari varian COVID-19 yang lain belum ada yang menyamai Omicron. Karena itulah, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengingatkan agar negara-negara lebih mengantisipasi, termasuk dengan memperbanyak variasi pengobatan COVID-19.
Kepada jurnalis, Tedros menyebut bahwa varian B.1.1.529 ini sudah dilaporkan di 77 negara. Namun Tedros menduga varian tersebut sudah menyebar ke banyak negara "dengan kecepatan yang tidak kita temukan di varian-varian sebelumnya".
WHO juga mewanti-wanti agar masyarakat tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, dalam hal ini mengenai tingkat keparahan gejala yang ditimbulkan varian Omicron. "(Jangan) menarik kesimpulan bahwa ini penyakit ringan. Kita bisa terjebak dalam situasi yang sangat berbahaya (kalau ceroboh)," tegas Pakar WHO, Bruce Aylward.
Meski masih banyak misteri yang belum terungkap soal varian Omicron, WHO meyakini vaksinasi adalah cara paling efektif untuk mengantisipasi penyebaran virus ini. Karena itulah, Direktur Program Kedaruratan WHO, Mike Ryan, menjelaskan bahwa mendapatkan vaksinasi dosis lengkap untuk semua orang adalah prioritas utama.
Penekanan ini disampaikan menyusul banyaknya informasi soal vaksinasi dosis penguat alias booster diperlukan untuk melawan varian Omicron. Ryan menjelaskan bahwa vaksin yang tersedia sekarang diharapkan mampu mencegah kenaikan tingkat keterisian rumah sakit hingga kematian akibat COVID-19. Karena itulah, menyuntikkan dosis penuh vaksin COVID-19 untuk semua pihak harus didahulukan ketimbang program booster.
"Orang-orang selalu bertanya, kita harus mendahulukan vaksin primer (dosis penuh) atau booster. Realitanya adalah kita memerlukan keduanya," teags Ryan dalam sebuah diskusi daring belum lama ini, dikutip dari Today Online, Rabu (15/12). "Kita harus fokus memvaksin mereka yang belum divaksin sama sekali, sesegera mungkin. Lalu setelahnya kita bisa memberikan dosis penguat untuk kelompok-kelompok rentan
(wk/elva)