Banyak negara di dunia yang saat ini tengah mengkhwatirkan varian baru COVID-19 Omicron lantaran dinilai tingkat penularannya sangat tinggi. Termasuk di antaranya adalah negara Uni Eropa.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Rabu, 15 Desember 2021 - 18:10 WIB
WowKeren - Hingga saat ini, negara-negara di dunia masih harus berjuang melawan pandemi COVID-19. Apalagi saat ini kembali muncul varian baru yakni Omicron.
Seperti yang diketahui, varian Omicron ini disebut memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Sementara itu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan bahwa varian Omicron ini diperkirakan akan menjadi varian COVID-19 yang dominan di blok 27 negara pada pertengahan Januari 2022 mendatang.
Menurut Leyen, sebaran varian Omicron itu nantinya akan terjadi di tengah kekhawatiran peningkatan infeksi yang dramatis akan membuat Eropa diselimuti kesuraman selama musim perayaan. Sementara itu, Kepala cabang eksekutif UE menuturkan bagaimanapun, blok tersebut siap untuk memerangi varian Omicron dengan 66,6 persen dari populasi Eropa yang sekarang diketahui telah sepenuhnya divaksinasi.
Melansir The Associated Press, Von der Leyen mengatakan bahwa ia meyakini UE memiliki "kekuatan" dan "sarana" untuk mengatasi penyakit tersebut. Meski demikian, ia juga menyampaikan kekecewaannya bahwa perayaan akhir tahun akan terganggu oleh pandemi. "Seperti banyak dari Anda, saya sedih sekali lagi Natal akan dibayangi oleh pandemi," tutur Von der Leyen, Rabu (15/12).
Lebih lanjut, Von der Leyen menuturkan bahwa meningkatnya infeksi baru yang mengkhawatirkan telah mendorong penerapan pembatasan lebih lanjut di seluruh Eropa. Seperti di Italia yang memutuskan untuk meminta tes negatif dari pengunjung yang telah divaksinasi juga menimbulkan kekhawatiran bahwa langkah tersebut akan membatasi pergerakan bebas pada saat banyak warga negara Uni Eropa melakukan perjalanan untuk melihat kerabat dan orang yang mereka cintai.
Kemudian, Von der Leyen menambahkan bahwa UE sekarang tengah menghadapi tantangan ganda, dengan peningkatan besar-besaran kasus dalam beberapa pekan terakhir akibat varian Delta, kemudian munculnya varian Omicron, terlebih beberapa negara anggota sudah dihadapkan dengan rekor jumlah infeksi. "Kami melihat peningkatan jumlah orang yang jatuh sakit, beban yang lebih besar pada rumah sakit dan sayangnya peningkatan jumlah kematian," jelasnya kepada anggota parlemen Eropa menjelang pertemuan para pemimpin UE.
Selain itu, Von der Leyen bersikeras bahwa peningkatan infeksi tetap disebabkan "hampir secara eksklusif" pada varian Delta. "Dan yang saya khawatirkan adalah bahwa kita sekarang melihat varian baru Omicron di cakrawala, yang tampaknya bahkan lebih menular," ungkap Von der Leyen.
(wk/tiar)