Perusahaan induk Meta memberi peringatan bahwa 50 ribu pengguna Facebook menjadi korban peretasan dan dimata-matai oleh 7 perusahaan pengintaian. Begini penjelasan selengkapnya.
- Elvariza Opita
- Sabtu, 18 Desember 2021 - 17:13 WIB
WowKeren - Perusahaan induk Facebook, Meta, mengumumkan temuan penggunanya yang dimata-matai pihak eksternal. Menurut Meta, sekitar 50 ribu pengguna Facebook menjadi korban peretasan dan mata-mata yang ditemukan ini.
Melalui unggahan di blog resminya pada Kamis (16/12), Meta memperingatkan pengguna tentang "tentara siber bayaran" yang memata-matai pengguna Facebook. Tak main-main, Meta setidaknya menemukan ada 7 perusahaan pengawasan yang berbasis di Tiongkok, Israel, India, dan Makedonia Utara.
"Sebagai hasil dari investigasi berbulan-bulan, kami mengambil langkah tegas terhadap tujuh perusahaan pengawasan tersebut," tegas Meta dalam postingannya, dilansir pada Sabtu (18/12). "Ketujuh perusahaan pengawasan menyediakan layanan di ketiga fase rantai pengawasan untuk menargetkan orang tanpa pandang bulu di lebih dari 100 negara atas nama klien mereka."
Dijelaskan Meta, perusahaan-perusahaan ini disewa di tingkat global dan menarget para pengguna di internet. Tujuannya untuk mengumpulkan intelijen dan memanipulasi mereka untuk mengungkap informasi, terutama yang membahayakan perangkat dan akun mereka.
Dalam hal ini, menurut Meta, perusahaan pengawasan menyasar beberapa kelompok pekerjaan. Seperti para jurnalis, pembangkang, kritikus rezim otoriter, keluarga pihak oposisi, serta para aktivis HAM.
Hanya saja, Meta mengakui bahwa perusahaan mencatat bahwa sulit untuk membedakan tujuan atau legitimasi penargetannya. Sedangkan perusahaan-perusahaan pengawasan yang akan mendapat tindakan termasuk Cobwebs Technologies, Cognyte, Black Cube, Blue Hawk CI, BellTroX, Cytrox dan entitas Tiongkok yang tidak dikenal.
Dalam pemberitaan sebelumnya, CEO Facebook Mark Zuckerberg mengumumkan bahwa sejumlah platform media sosial dalam satu manajemennya akan bergabung dalam perusahaan induk bernama Meta. Penamaan Meta ini diambil dari Metaverse, sebuah istilah yang merujuk pada realitas virtual yang lebih luas di mana pengguna bisa saling berbagi ruang dan interaksi.
"Facebook adalah salah satu produk yang paling banyak digunakan dalam sejarah dunia. Ini adalah merek media sosial yang ikonik," papar Zuckerberg, 29 Oktober 2021. "Tetapi semakin hari (nama Facebook) tidak mencakup semua yang kami lakukan. Merek kami terkait erat dengan satu produk sehingga tidak mungkin mewakili semua yang kami kerjakan hari ini, apalagi di masa depan."
(wk/elva)