Juru bicara Organisasi Internasional untuk Migrasi Safa Msehli mengatakan bahwa setidaknya 102 migran dilaporkan tewas setelah perahu kayu mereka terbalik di Libya pekan lalu.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 22 Desember 2021 - 10:45 WIB
WowKeren - Tragedi yang menimpa migran kembali terjadi di Libya. Pejabat migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan bahwa ada lebih dari 160 migran tenggelam di lepas pantai Libya selama seminggu terakhir.
Mereka naik kapal yang berbeda. Juru bicara Organisasi Internasional untuk Migrasi Safa Msehli pada Selasa (21/12) mengatakan bahwa setidaknya 102 migran dilaporkan tewas setelah perahu kayu mereka terbalik di Libya pada hari Jumat pekan sebelumnya.
Ia melanjutkan delapan orang lainnya berhasil diselamatkan dan dikembalikan ke pantai. Lalu, kecelakaan kembali terjadi pada keesokan harinya, Sabtu (18/12). Msehli menuturkan bahwa penjaga pantai Libya menemukan setidaknya 62 mayat migran.
Masih di hari yang sama, penjaga pantai mencegat perahu kayu ketiga dengan sedikitnya 210 migran di dalamnya. Insiden itu merupakan bencana terbaru di Laut Mediterania yang melibatkan para migran. Mereka ingin mencari kehidupan yang lebih baik di Eropa.
Jumlah kematian baru itu menambah penghitungan migran yang tenggelam di rute Mediterania tengah tahun ini menjadi sekitar 1.500 orang. Dalam beberapa bulan terakhir telah terlihat lonjakan penyeberangan dan upaya penyeberangan dari Libya.
Itu terjadi ketika pihak berwenang mempercepat tindakan keras mereka yang mematikan terhadap para migran di ibu kota Tripoli. Sekitar 31.500 migran dicegat dan dikembalikan ke Libya pada 2021.
Jumlah itu dua kali lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya dengan hampir 11.900 migran, menurut IOM. Badan PBB itu mengatakan sekitar 980 migran tewas atau diduga tewas pada 2020. Selama 12 hingga 18 Desember, IOM mengatakan bahwa 466 migran dicegat atau diselamatkan di laut dan dikembalikan ke Libya.
Diketahui, Libya telah menjadi titik transit dominan bagi orang-orang yang melarikan diri dari perang dan kemiskinan di Afrika dan Timur Tengah. Negara kaya minyak itu jatuh ke dalam kekacauan menyusul pemberontakan yang didukung NATO yang menggulingkan dan membunuh Muammar Gaddafi pada 2011.
Para penyelundup manusia memanfaatkan kekacauan itu. Mereka membawa orang-orang yang putus asa mengarungi perjalanan Laut mediterania yang berbahaya dengan menggunakan perahu karet.
(wk/zodi)