Beragam penelitian mengenai karakter dan perkembangan virus COVID-19 varian Omicron muncul ke publik. Kali ini, hasil studi penelitian Inggris memaparkan temuannya mengenai Omicron.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Jumat, 24 Desember 2021 - 13:39 WIB
WowKeren - Para ahli hingga saat ini diketahui masih terus melakukan penelitian mengenai karakteristik dan perkembangan COVID-19 varian Omicron. Sebagai pengingat, varian Omicron pertama kali secara resmi ditemukan di Afrika Selatan.
Kini, dua studi baru di Inggris menunjukkan bahwa varian Omicron lebih ringan dibandingkan dengan Delta. Berdasarkan analisis data awal Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA), menunjukkan bahwa individu yang terpapar varian Omicron diperkirakan hingga 45 persen lebih kecil kemungkinannya untuk dirawat di rumah sakit daripada Delta.
Jenny Harries selaku CEO UKHSA mengatakan bahwa temuan itu merupakan sinyal awal yang menggembirakan orang yang terpapar varian Omicron mungkin memiliki risiko rawat inap yang relatif lebih rendah dibanding mereka yang terpapar varian lain, seperti Delta.
Sementara itu, menurut Studi University of Edinburgh yang didasarkan pada sampel sangat kecil, tetapi menemukan bahwa risiko rawat inap hampir 70 persen lebih rendah dengan Omicron. Sedangkan sebuah studi yang jauh lebih besar oleh Imperial College London, menunjukkan bahwa ada 15 sampai 20 persen pengurangan risiko pergi ke rumah sakit untuk Omicron dibandingkan dengan Delta dan risiko sekitar 40 persen lebih rendah untuk dirawat.
Meski demikian, sejauh ini, studi-studi tersebut belum ditinjau lebih lanjut oleh rekan sejawat dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Rekan sejawat dan WHO sejauh ini menyatakan masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan yang pasti.
Di sisi lain, Neil Ferguson yang merupakan seorang profesor yang memimpin studi Imperial College, percaya bahwa penerimaan rumah sakit akan terus meningkat. "Analisis kami menunjukkan bukti pengurangan moderat dalam risiko rawat inap yang terkait dengan varian Omicron dibandingkan dengan varian Delta," tutur Ferguson dilansir dari CGTN, Jumat (24/12).
Kemudian, ada juga kekhawatiran tentang meningkatknya jumlah staf rumah sakit yang tidak bekerja karena terpapar virus COVID-19. Li Smith, seorang konsultan pernapasan di King's College Hospital London menuturkan bahwa masalah utama bagi pihak rumah sakit adalah staf.
"Sebagian besar staf kami telah divaksinasi sepenuhnya tetapi mereka masih harus mengisolasi jika mereka adalah kontak, dan kami masih memiliki staf yang tertular COVID- 19," papar Smith. "Dan itu memberi tekanan besar pada sistem kami."
(wk/tiar)