Meski Banyak yang Jual Kado 'Valentine', Arab Saudi Tak Sebut Sebagai Perayaan Hari Kasih Sayang
Pexels/Monstera
Dunia

Perayaan Hari Kasih Sayang atau biasa yang disebut sebagai Valentine dirayakan oleh masyarakat hampir di seluruh dunia. Di Arab Saudi, tampak banyak masyarakat mengenakan jubah berwarna merah.

WowKeren - Tanggal 14 Februari diperingati sebagai Hari Kasih Sayang yang biasa disebut dengan 'Valentine'. Perayaan ini pun diperingati oleh masyarakat di berbagai belahan dunia.

Hal ini tampaknya juga berlangsung di Arab Saudi, di mana banyak toko yang dalam etalasenya memajang pakaian merah, tetapi promosi Hari Valentine yang semakin populer dikenal dengan nama "Festival". Di sisi lain lonjakan penjualan dan hadiah "Valentine" menjadi lebih umum di kalangan penduduk muda Arab Saudi, tetapi ucapan tersebut tidak terlihat di manapun.

"Manajemen telah meminta kami untuk mendekorasi etalase dengan pakaian dalam berwarna merah... tetapi tanpa menyebutkan di mana pun Hari Valentine," tutur seorang penjual di mal Riyadh, yang tidak mau disebutkan identitasnya lantaran dinilai tidak berwenang berbicara kepada media, dilihat pada Senin (14/2).

Adapun pajangan bernuansa Valentine itu disebut mewakili perubahan di Arab Saudi, di mana polisi agama pernah menindak penjualan perlengkapan Hari Valentine dan bahkan ada orang-orang yang mengenakan pakaian merah selama festival 14 Februari.


Hari Valentine sendiri disebut memiliki asal-usul yang tidak jelas sejak zaman Romawi, ketika beberapa martir Kristen bernama Valentine. Perayaan untuk kekasih, yang ditandai secara luas di seluruh dunia, sangat dilarang di kerajaan ultrakonservatif yang hanya akan menandai hari libur Muslim dan hari nasionalnya di bulan September.

Namun Arab Saudi sendiri diketahui telah mengalami perubahan sosial lantaran berusaha menghadirkan citra yang lebih menarik dan mendiversifikasi ekonominya yang bergantung pada minyak. Hal ini telah mengekang polisi agama yang ditakuti dan memberi wanita lebih banyak kebebasan.

Di antaranya adalah mereka saat ini telah memiliki hak untuk mengemudi dan dapat menambahkan warna pada pakaian mereka di luar jubah abaya hitam polos tradisional. Bagaimanapun, perubahan itu telah datang bersamaan dengan tindakan keras terhadap perbedaan pendapat yang telah menahan ulama dan aktivis hak-hak perempuan.

"Kami sekarang dapat menampilkan pakaian merah dengan nyaman dan bahkan menempatkannya di etalase," tutur salah seorang pramuniaga di Grenada Mall di timur Riyadh yang juga berbicara secara anonim.

"Ada banyak pelanggan yang meminta lingerie merah saat Hari Valentine," lanjut pramuniaga tersebut. "Kami memiliki diskon selama waktu ini, tetapi kami tidak menyebutnya sebagai penawaran Hari Valentine."

(wk/tiar)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait