Otoritas pendidikan di Sri Lanka memutuskan untuk membatalkan ujian semester bagi jutaan siswa di negara itu. Pasalnya, mereka mengalami kekurangan kertas yang parah.
- Amelia Nur Fatimah
- Minggu, 20 Maret 2022 - 23:36 WIB
WowKeren - Para siswa di Sri Lanka harusnya menjalani ujian sekolah seminggu ke depan. Sayangnya, ujian semester itu harus dibatalkan. Alasannya cukup tak terduga.
Sri Lanka memutuskan untuk membatalkan ujian sekolah untuk jutaan siswa setelah kehabisan kertas cetak. Hal itu terjadi karena negara tersebut menghadapi krisis keuangan terburuk sejak kemerdekaan mereka pada tahun 1948.
Otoritas pendidikan mengatakan pada hari Sabtu (19/3), bahwa ujian semester, yang dijadwalkan pada seminggu ke depan dimuai dari Senin, ditunda tanpa batas waktu. Hal itu karena kekurangan kertas akut, dengan Kolombo yang kekurangan dana untuk membiayai impor.
“Kepala sekolah tidak dapat mengadakan ujian karena pencetak tidak dapat mengamankan devisa untuk mengimpor kertas dan tinta yang diperlukan," ujar Departemen Pendidikan Provinsi Barat, melansir The Guardian.
Tes semester sendiri merupakan bagian dari proses penilaian berkelanjutan untuk memutuskan apakah siswa dipromosikan ke kelas berikutnya pada akhir tahun atau tidak. Sumber-sumber resmi mengatakan bahwa masalah keungan itu dapat menunda ujian bagi sekitar dua pertiga dari 4,5 juta siswa di negara tersebut.
Krisis ekonomi yang disebabkan oleh kekurangan cadangan devisa untuk membiayai impor penting itu telah membuat negara ini juga kehabisan makanan, bahan bakar dan obat-obatan. Negara Asia Selatan berpenduduk 22 juta yang kekurangan uang itu mengumumkan minggu ini bahwa mereka akan mencari dana talangan IMF untuk menyelesaikan krisis utang luar negeri yang memburuk dan menopang cadangan eksternal.
Sementara Dana Moneter Internasional pada hari Jumat (18/3) mengkonfirmasi bahwa mereka sedang mempertimbangkan permintaan mengejutkan Presiden Gotabaya Rajapaksa untuk membahas bailout. Sekitar $6,9 miliar utang Kolombo juga perlu dilunasi tahun ini, tetapi cadangan mata uang asingnya mencapai sekitar $2,3 miliar pada akhir Februari.
Antrian panjang telah terbentuk di seluruh negeri untuk bahan makanan dan minyak dengan pemerintah melembagakan pemadaman listrik bergilir dan penjatahan susu bubuk, gula, lentil dan beras.
Sri Lanka awal tahun ini telah meminta Tiongkok, salah satu kreditur utamanya, untuk membantu menunda pembayaran utang tetapi belum ada tanggapan resmi dari Beijing.
(wk/amel)