Seorang insinyur di Jepang mengembangkan teknologi di alas kaki untuk memandu orang dengan gangguan penglihatan. teknologi itu nantinya terhubung dengan aplikasi di smartphone.
- Amelia Nur Fatimah
- Jumat, 08 April 2022 - 11:01 WIB
WowKeren - Jepang jadi salah satu negara yang ramah dengan para penyandang disabilitas. Berbagai teknologi yang bisa memudahkan para penyandang disabilitas pun tampaknya terus dikembangkan. Salah satunya adalah start up yang didirikan Honda, Ashirase, Inc.
Wataru Chino muncul dengan ide untuk “menyematkan informasi braille di alas kaki”. ide itu muncul setelah Wataru Chino mengetahui bahwa sepeda yang ditinggalkan di trotoar taktil menciptakan hambatan bagi pejalan kaki dengan gangguan penglihatan.
Berdasarkan ide itu, Wataru Chino (36), mengembangkan sistem pendukung berjalan Ashirase, yang melibatkan perangkat fleksibel yang dipasang di motor yang dimasukkan ke dalam sepatu.
Mereka yang memiliki masalah penglihatan bisa mendatangi tujuan mereka dengan bantuan aplikasi smartphone khusus. Kemudian perangkat di sepatu memandu mereka terutama dengan getaran.
Getaran di punggung kaki kanan, misalnya, memberi tahu pemakainya untuk "belok kanan" di tikungan berikutnya. Irama getaran menginformasikan pengguna jarak ke sudut.
Sebagai pecinta kendaraan, Chino yang merupakan seorang insinyur, masuk ke Honda Motor Co. pada tahun 2008 dan terlibat dalam pengembangan self-driving dan teknologi lainnya. Tapi dia menjadi sadar sepenuhnya akan bahaya berjalan setelah nenek istrinya jatuh ke sungai dan tenggelam pada 2018.
"Saya telah lama mengabdikan diri untuk mengembangkan mobil dengan memperhatikan keselamatan, tetapi saya menyadari bahwa berjalan kaki juga bisa berbahaya. Saya sadar bahwa berjalan juga merupakan bagian dari mobilitas," ujar Chino melansir Asahi Shimbun.
Chino meninggalkan Honda dan menciptakan asisten mekanik. Temuan ini dijadwalkan untuk rilis pada akhir tahun dengan harga sekitar 25.000 yen ($ 206). Biaya penggunaan aplikasi ini diperkirakan sekitar 2.000 yen per bulan.
Chino mengatakan bahwa dia telah mendengar orang-orang tunanetra mengatakan mereka "sudah menyerah pergi ke tempat-tempat baru." Dia juga melihat banyak orang seperti itu menjadi gugup di kereta dan bus.
"Saya ingin mereka mendengarkan musik dan tertidur di atas kereta api. Getaran di alas kaki akan memberi sinyal ketika mereka telah tiba di stasiun tempat mereka akan keluar," pungkasnya.
(wk/amel)