Pengunjuk Rasa Ramai Padati Jalanan Usai PM Pakistan Imran Khan Digulingkan
Instagram/imrankhan.pti
Dunia

Pada Minggu, Khan mengulangi tuduhan bahwa konspirasi asing berada di balik pergantian pemerintahan. Khan mengklaim AS bekerja di belakang layar untuk menjatuhkannya.

WowKeren - Situasi politik di Pakistan tengah bergejolak. Perdana Menteri Imran Khan, baru saja digulingkan dari pemerintahan belum lama ini.

Pencopotan PM telah menempatkan Pakistan pada jalur politik yang tak pasti. Pada pendukung Khan segera turun ke jalan untuk melakukan protes ketika pihak oposisi bersiap untuk mengangkat penggantinya.

Sebagaimana diketahui, Khan telah digulingkan pada Minggu (10/4) pagi setelah 174 legislator di Majelis Nasional dengan 342 kursi memberikan suara dalam mosi tidak percaya yang digerakkan oleh oposisi untuk menggulingkannya. Dengan ini, Khan menjadi PM Pakistan pertama yang digulingkan dari jabatannya melalui mosi tidak percaya.

Malamnya di hari yang sama, puluhan ribu pendukung Khan berbaris di kota-kota di seluruh Pakistan. Mereka mengibarkan bendera partai dan meneriakkan slogan-slogan. Banyak dari mereka adalah para pemuda.


Di kota pelabuhan Laut Arab selatan Karachi, lebih dari 20.000 orang meneriakkan slogan-slogan yang menjanjikan kembalinya Khan ke tampuk kekuasaan. Sedangkan di ibu kotanya, Islamabad, lampu-lampu dari ribuan pendukung tampak menerangi langit malam saat Khan melewati kerumunan di atas truk.

"Peristiwa itu direkam oleh Khan yang kemudian mengunggahnya di media sosial. "Belum pernah ada orang banyak yang keluar secara spontan dan dalam jumlah seperti itu dalam sejarah kita," tulisnya.

Khan telah bertahan selama hampir seminggu setelah oposisi untuk pertama kalinya bergabung dan mencoba menggulingkannya. Pencopotannya terjadi setelah berhari-hari drama dan sering mengeluarkan komentar pedas di dalam dan di luar parlemen.

Pada Minggu, Khan mengulangi tuduhan bahwa konspirasi asing berada di balik pergantian pemerintahan. Khan mengklaim AS bekerja di belakang layar untuk menjatuhkannya.

Bukan tanpa alasan, ia meyakini jika Washington tidak senang atas kebijakan luar negerinya yang independen, yang sering menguntungkan Tiongkok dan Rusia. Khan mengatakan AS sangat terganggu dengan kunjungannya ke Rusia dan pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 24 Februari, yang mana ini merupakan hari ketika Rusia melancarkan serangan ke Ukraina.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait