Buku tersebut berisi informasi untuk warga tentang bagaimana menanggapi keadaan darurat, termasuk serangan militer. Buku itu juga menampilkan kode QR yang dapat dipindai untuk menemukan lokasi perlindungan bom.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 12 April 2022 - 20:57 WIB
WowKeren - Militer Taiwan merilis buku pegangan pertahanan sipil pada Selasa (12/4). Buku tersebut berisi informasi untuk warga tentang bagaimana menanggapi keadaan darurat, termasuk serangan militer, di tengah kekhawatiran akan invasi Tiongkok.
Buku pegangan setebal 28 halaman tersebut menampilkan kode QR yang dapat dipindai untuk menemukan lokasi perlindungan bom. Buku tersebut juga berisi instruksi keselamatan untuk serangan udara, kebakaran, runtuhnya gedung, dan pemadaman listrik besar-besaran.
Bahkan ada panduan bergambar yang mencakup informasi mobilisasi untuk pasukan cadangan militer jika terjadi perang. Menurut pejabat Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan, Liu Tai-yi, buku manual tersebut akan "meningkatkan kesadaran publik dan persiapan keselamatan ketika menghadapi militer atau kemungkinan krisis dan bencana lainnya.
Adapun pihak militer Taiwan sebenarnya telah mengerjakan buku manual tersebut sejak tahun lalu. Namun serangan Rusia ke Ukraina yang dimulai pada bulan Februari 2022 lalu membawa fokus baru pada bahaya yang ditimbulkan oleh Tiongkok.
Konflik di Ukraina juga memberikan rasa urgensi tambahan untuk reformasi militer yang sedang berlangsung. Seperti skema pelatihan yang ditingkatkan untuk pasukan cadangan yang diperkenalkan akhir tahun lalu.
Liu mengungkapkan bahwa buku manual pertahanan Taiwan tersebut didasarkan pada panduan serupa dari Jepang dan Swedia. Nantinya, buku tersebut akan terus diperbarui dengan informasi lokal dari pemerintah kota dan kota madya.
Sebagai informasi, Tiongkok yang ingin mengakui wilayah Taiwan sebagai bagian dari negaranya, sedangkan Taiwan mengklaim memiliki pemerintahan sendiri. Hal ini memicu konflik di antara kedua wilayah tersebut.
Baru-baru ini, Menteri Keuangan Amerika Serikat, Janet Yellen mengatakan bahwa pihaknya tidak melihat perlunya menjatuhkan sanksi terhadap Tiongkok karena hubungan perdagangannya dengan Rusia saat ini. Meski demikian, ia menegaskan bahwa AS akan siap untuk memberikan sanksi, apabila Tiongkok "bergerak agresif" melawan Taiwan.
(wk/Bert)