Presiden Bank Dunia David Malpass dalam konferensi pers memperingatkan penumpukan utang yang sangat besar terutama di negara-negara miskin ketika suku bunga naik.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 21 April 2022 - 16:24 WIB
WowKeren - Masih belum sepenuhnya selesai dengan pandemi virus corona, sejumlah negara di dunia harus dihadapkan pada masalah lain seperti krisis pangan. Pada Rabu (20/4), Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga menekan negara-negara termiskin di dunia saat mereka berkutat dengan melonjaknya harga pangan dan virus corona.
Presiden Bank Dunia David Malpass dalam konferensi pers memperingatkan penumpukan utang yang sangat besar terutama di negara-negara miskin. "Ketika suku bunga naik, tekanan utang meningkat di negara-negara berkembang, dan kita perlu segera bergerak menuju solusi," katanya.
Krisis utang menjadi topik diskusi ekstensif pada pertemuan musim semi Bank Dunia dan IMF pekan ini. Dalam diskusi itu, mereka juga membahas perang di Ukraina, pandemi virus corona, dan ekonomi global yang melambat.
Sementara itu, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva di hari yang sama mengatakan bahwa sebanyak 60 persen negara berpenghasilan rendah berada dalam atau mendekati kesulitan utang. Negara-negara yang berusaha keras untuk membayar kreditur mereka juga akan berjuang untuk membantu warganya yang paling miskin.
Ini terjadi ketika perang Ukraina mengganggu pengiriman makanan dan mendorong harga pangan lebih tinggi. Negara-negara di seluruh dunia terpaksa menumpuk utang untuk melindungi ekonomi mereka dari keterpurukan akibat pandemi COVID-19.
Menurut perkiraan IMF, utang pemerintah di negara-negara berpenghasilan rendah akan melampaui 50 persen dari produk domestik bruto tahun ini. Perkiraan itu naik dari 44 persen pada tahun pra-pandemi 2019.
Secara global, bantuan ekonomi yang diberikan besar-besaran telah berhasil memicu pemulihan cepat dari resesi akibat pandemi tahun 2020. Namun rupanya, rebound justru mengejutkan dengan banyaknya permintaan yang melonjak.
Alhasil, hal itu membanjiri pabrik, pelabuhan, dan tempat pengiriman barang. Ini berbuntut pada pengiriman yang melambat dan harga yang kemudian naik. IMF memperkirakan bahwa harga konsumen akan melonjak sebesar 8,7 persen tahun ini di pasar negara berkembang dan negara berkembang. Sedangkan di negara maju harga akan naik 5,7 persen, terbesar sejak 1984.
(wk/zodi)