Setiap tahunnya, warga Yordania harus berkutat dengan meningkatnya kelangkaan air dan munculnya lubang-lubang raksasa di daerah pertanian di dekat Laut Mati.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 22 April 2022 - 10:48 WIB
WowKeren - Dunia tengah memperingati Hari Bumi pada Jumat (22/4). Di tengah peringatan itu, perlu diingat bahwa masih banyak masalah terkait kondisi bumi yang tidak sehat.
Di Yordania misalkan. Saat dunia memperingati Hari Bumi 2022, para petani di sana harus menghadapi konsekuensi yang nyata dari perubahan iklim. Setiap tahunnya, mereka harus berkutat dengan meningkatnya kelangkaan air dan munculnya lubang-lubang raksasa di daerah dekat Laut Mati.
Permintaan terhadap air dan produksi pertanian meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi dengan arus pengungsi dari negara-negara tetangga. Setiap tahunnya, permukaan Laut Mati turun sekitar satu meter (tiga kaki) dan menyebabkan masalah besar bagi sektor pertanian di Yordania.
Laut Mati merupakan sebuah danau air asin yang terletak di antara Yordania, wilayah Palestina yang diduduki, dan Israel. Selama dua dekade terakhir, permukaannya telah surut sekitar 20 meter. Penurunan permukaan air dan selanjutnya air tanah telah menyebabkan munculnya lubang-lubang besar.
Di sebuah peternakan yang terletak beberapa ratus meter dari laut, lubang besar atau yang disebut sinkhole telah sangat mempengaruhi produksi pertanian. Sebab kemunculan lubang mengakibatkan sebagian besar tanah menghilang.
"Jamnya panjang dan kami tidak dibayar banyak," kata Amina al-Huaima, manajer pertanian di lokasi pertanian di Ghor Haditha kepada Al Jazeera. "Ini adalah kerja keras, terutama karena risiko hilangnya tanah semakin tinggi."
Tingkat permukaan air Laut Mati yang terus merendah telah mengubah cara hidup orang-orang di sekitarnya. Kehidupan mereka menjadi lebih buruk karena banyaknya ladang yang memiliki lubang.
Selain itu, pertanian mereka juga bergantung pada danau garam. "Ini tidak seperti sebelumnya karena bumi benar-benar menghilang di bawah kaki kita," kata Samir Muhammad al-Habashna, seorang petani di daerah itu.
Profesor Nizar Abu Jaber dari Universitas Yordania Jerman mengatakan Laut Mati dulunya menerima sekitar 200 juta meter kubik air per tahun sebelum Israel mulai mengalihkan hulu pada 1960-an. Kemudian, Yordania dan Suriah mengambil langkah serupa dan jumlah yang mencapai Laut Mati saat ini kurang dari 100 juta meter kubik.
(wk/zodi)