Macron yang merupakan seorang sentris diketahui memang telah berkampanye dengan gencar melawan Le Pen sejak putaran pertama siklus pemilihan di Prancis dimulai awal bulan ini.
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 25 April 2022 - 08:32 WIB
WowKeren - Emmanuel Macron kembali terpilih menjadi presiden Prancis. Dia telah memenangkan pemilihan pada Minggu (24/4) melawan sayap kanan Marine Le Pen. Dengan terpilihnya kembali Macron, dia akan menjalani masa jabatan lima tahun kedua sebagai presiden, sekaligus menjadi yang pertama memenangkan pemilihan kembali dalam 20 tahun.
Macron yang merupakan seorang sentris diketahui memang telah berkampanye dengan gencar melawan Le Pen sejak putaran pertama siklus pemilihan di Prancis dimulai awal bulan ini. Di bawah undang-undang Prancis, pemilih melakukan pemungutan suara untuk dua putaran pemilihan jika tidak ada kandidat yang memenangkan lebih dari 50 persen suara di putaran pertama.
Namun di lain sisi, popularitas Macron sendiri telah menurun karena tantangan negara baru-baru ini ketika Le Pen berkampanye pada platform yang berfokus pada inflasi dan meningkatnya biaya hidup. Kementerian Dalam Negeri mencatat bahwa siklus pemilihan sendiri sempat menghadapi tantangan dengan jumlah pemilih yang rendah dengan hanya 26,4 persen dari 48,7 juta pemilih yang memenuhi syarat yang datang ke tempat pemungutan suara pada tengah hari.
Macron bergabung dengan para pendukungnya pada Minggu malam. Dia menjadi tuan rumah acara kemenangan malam pemilihannya di dekat kaki Menara Eiffel sementara Le Pen mengadakan acara konsesinya di tempat bergaya Belle Epoque yang merupakan bekas pondok berburu. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memberi selamat kepada Macron atas kemenangannya dalam sebuah pesan yang diposting ke Twitter.
"Prancis adalah salah satu sekutu terdekat dan terpenting kami," kata Johnson. "Saya berharap untuk terus bekerja sama dalam isu-isu yang paling penting bagi kedua negara kita dan bagi dunia."
Pendukung kandidat sayap kiri Jean-Luc Melenchon, yang berada di urutan ketiga di belakang Le Pen pada putaran pertama tidak mendukung Macron tetapi mengatakan bahwa pemilih tidak boleh memberikan suara untuk sayap kanan. "Emmanuel Macron telah menjadi presiden Republik Kelima yang paling buruk terpilih. Kemenangannya mengambang di lautan abstain dan surat suara yang rusak," ujarnya.
(wk/zodi)