Sebelumnya, para mahasiswa mengepung rumah PM Sri Lanka dan menuntut pengunduran dirinya atas krisis ekonomi. Kini Ulama Buddha yang berpengaruh juga menyerukan pengunduran diri pemerintah.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Senin, 25 April 2022 - 20:58 WIB
WowKeren - Krisis ekonomi yang terjadi di Sri Lanka tampaknya semakin parah. Hal ini lantas memicu mahasiswa mengambil sikap dan mendatangi, bahkan mengepung kediaman Perdana Menteri (PM) Sri Lanka Mahinda Rajapaksa. Mereka menuntut Rajapaksa untuk mengundurkan diri.
Kini, tekanan itu pun datang dari para pemimpin Buddhis yang berpengaruh menyerukan agar pemerintah Sri Lanka mengundurkan diri atas krisis ekonomi yang meningkat di pulau tersebut.
Sebagai informasi, kemerosotan terburuk pada Sri Lanka sudah sejak kemerdekaan pada tahun 1948 silam, telah membawa kesulitan yang meluas ke 22 juta penduduknya, dengan pemadaman secara teratur selama berbulan-bulan dan kekurangan makanan dan bahan bakar yang akut.
Di tengah krisis yang memicu protes nasional itu, ulama Buddha yang dinilai paling berpengaruh di Sri Lanka itu pun kini diketahui telah bergabung dengan daftar mantan sekutu yang terus bertambah, menyerukan pengunduran diri kepada pemerintah.
"Negara ini dengan cepat menjadi negara gagal," ujar Biksu senior Medagama Dhammananda kepada wartawan di pusat kota Kandy, Senin (25/4).
Dhammananda pun mengatakan bahwa ia dan sesama pemimpin Buddhis telah bersama-sama mengajukan petisi kepada Presiden Gotabaya Rajapaksa untuk membentuk pemerintahan sementara "untuk menarik negara keluar dari krisis ini".
Menurut Dhammananda, langkah tersebut akan membutuhkan pengunduran diri Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa yang juga merupakan saudara laki-laki presiden dan kepala keluarga penguasa Sri Lanka yang berkuasa. Gotabaya sendiri sejauh ini telah menghadapi seruan serupa untuk mundur.
Bahkan seruan tersebut berlangsung dengan ribuan pengunjuk rasa berkemah di luar kantor tepi lautnya di Kolombo selama lebih dari dua minggu.
Dhammananda mengungkapkan bahwa sebelum krisis, kedua pejabat negara itu dicintai oleh sebagian besar mayoritas Buddha Sinhala di negara itu karena mengakhiri perang saudara etnis selama puluhan tahun melawan Macan Tamil ke akhir yang brutal.
Akan tetapi, beberapa minggu terakhir telah terlihat retaknya koalisi pemerintah yang berkuasa, bersama dengan para pemimpin bisnis dan mantan menteri kabinet yang mendesak Rajapaksa untuk mengundurkan diri.
(wk/tiar)