Semasa hidupnya, Katsumoto Saotome kerap menulis cerita dari para penyintas bom api di Tokyo pada saat Perang Dunia II. Kini Saotome telah meninggalkan dunia untuk selamanya.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Kamis, 12 Mei 2022 - 09:04 WIB
WowKeren - Berita duka datang dari dunia. Seorang penulis Jepang yang mengumpulkan laporan para penyintas bom api Amerika Serikat (AS) di Tokyo saat Perang Dunia II berlangsung, Katsumoto Saotome meninggal dunia.
Semasa hidupnya, Saotome diketahui menuliskan laporan dari para penyintas bom tersebut guna meningkatkan kesadaran akan kematian warga sipil yang masif dan pentingnya perdamaian di dunia. Kabar kepergian Saotome ini juga telah dikonfirmasi oleh salah satu penerbitnya, Iwanami Shoten.
Saluran televisi publik NHK melaporkan bahwa Saotome meninggal pada Selasa (10/5), akibat kegagalan organ terkait dengan usia tua di sebuah rumah sakit di Saitama, utara Tokyo. Saotome sendiri berasal dari Tokyo dan merupakan seorang penyintas bom api.
Sebelum meninggal, Saotome sempat menceritakan bagaimana dia bisa bertahan hidup dan lolos dari bom api AS. Pada saat itu, ia berusia 12 tahun, nyaris selamat dari pemboman kota pada 10 Maret 1945 silam, yang mengubah pusat kota penduduk Ibu Kota Jepang menjadi "neraka".
"Saya berlari untuk hidup saya ketika bom curah yang tak terhitung jumlahnya menghujani," ungkap Saotome dalam salah satu acara mendongengnya, dikutip dari Asahi, Kamis (12/5).
Saotome mengatakan lebih dari 105.000 orang diperkirakan tewas dan satu juta kehilangan tempat tinggal dalam satu malam, tetapi kehancuran sebagian besar telah dikalahkan dalam sejarah oleh pemboman atom AS di dua kota Jepang beberapa bulan kemudian.
Setelah perang, Saotome mengaku mengejar tulisannya sambil bekerja di sebuah pabrik. Adapun debutnya di dunia kepenulisan adalah kisah otobiografi "Downtown Home", yang dinominasikan untuk hadia sastra Naoki yang bergengsi di tahun 1952.
Kemudian, di tahun 1970, Saotome diketahui mulai mengunjungi para penyintas bom api untuk mendengarkan cerita mereka agar suara mereka didengar publik. Ia lantas membentuk kelompok sipil untuk mendokumentasikan pemboman dan mengumpulkan dokumen dan artefak tentang serangan tersebut.
Adapun kelompok tersebut dibentuk mengarah pada pendirian museum, Pusat Serangan dan Kerusakan Perang Tokyo, pada tahun 2002. Saotome pun menjabat sebagai direkturnya hingga tahun 2019 lalu.
Kala itu, sebagai kepala museum, Saotome menerbitkan sebuah majalah tentang bom api, sambil terus menulis buku untuk anak-anak dan dewasa muda guna meningkatkan kesadaran akan tragedi tersebut.
"Kita harus menyerahkan tongkat estafet kepada generasi muda untuk terus menceritakan kembali kisahnya," ujar Saotome dalam wawancara dengan NHK pada tahun 2019.
(wk/tiar)