Jika ada perusahaan yang mempekerjakan tenaga teknologi informasi dari Korea Utara, mereka berisiko menghadapi konsekuensi hukum atas pelanggaran sanksi.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 17 Mei 2022 - 10:32 WIB
WowKeren - Pejabat Amerika Serikat memperingatkan para pelaku bisnis untuk tidak secara sengaja mempekerjakan tenaga teknologi informatika dari Korea Utara. Sebab menurut mereka, pekerja lepas atau freelance dari negara itu bisa saja mengambil kesempatan dari peluang kerja jarak jauh untuk menyembunyikan identitas asli mereka.
Tak hanya itu, mereka juga dikhawatirkan akan mendapatkan uang untuk Korea Utara. Sebuah nasihat yang dikeluarkan oleh negara bagian dan departemen perbendaharaan dan FBI mengatakan upaya itu dimaksudkan untuk menghindari sanksi AS dan PBB.
Upaya itu juga disebut bertujuan untuk mendatangkan uang untuk program senjata nuklir dan rudal balistik Korea Utara. Jika ada perusahaan yang mempekerjakan tenaga IT dari Korea Utara berisiko menghadapi konsekuensi hukum atas pelanggaran sanksi.
"Ada ribuan pekerja TI DPRK yang dikirim ke luar negeri dan berada di dalam DPRK," kata peringatan tersebut. "Menghasilkan pendapatan yang dikirim kembali ke pemerintah Korea Utara."
Peringatan itu juga menyebutkan bahwa tenaga lepas ini tak hanya akan memanfaatkan kesempatan lowongan pekerjaan dari AS namun juga Asia dan negara-negara Eropa lainnya.
"Pekerja TI ini memanfaatkan tuntutan yang ada untuk keterampilan TI tertentu, seperti pengembangan perangkat lunak dan aplikasi seluler, untuk mendapatkan kontrak kerja lepas dari klien di seluruh dunia," lanjut pernyataan itu. "Termasuk di Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur."
Dalam nasihat itu, disebutkan bahwa pekerja dari Korea Utara biasanya menyamar sebagai orang Korea Selatan, Jepang, atau negara-negara Asia lainnya. Para pejabat AS mengatakan warga Korea Utara sebagian besar berbasis di Tiongkok dan Rusia, dengan jumlah yang lebih kecil beroperasi dari Afrika dan Asia Tenggara.
Pengumuman peringatan itu juga menjelaskan sejumlah indikasi calon tenaga yang harus diwaspadai, terutama ketika mereka menolak ajakan untuk melakukan panggilan video. Pengusaha juga harus waspada ketika calon tenaga TI mereka meminta pembayaran dalam mata uang virtual.
"Mempekerjakan orang Korea Utara menimbulkan banyak risiko," bunyi nasihat itu. "Mulai dari pencurian kekayaan intelektual, data, dan dana hingga kerusakan reputasi."
(wk/zodi)