Ditemukan ada 14 mayat yang terdampar di pantai Myanmar. Sementara itu, diduga ada 17 orang yang tewas dalam peristiwa kapal terbalik dan tenggelam pada 21 Mei 2022 lalu.
- Amelia Nur Fatimah
- Selasa, 24 Mei 2022 - 17:46 WIB
WowKeren - Dilaporkan ada 14 jenazah ditemukan terdampar di sebuah pantai di Myanmar, kata polisi kepada AFP pada Senin (23/5). Badan Pengungsi PBB mengutip laporan bahwa korban tewas termasuk anak-anak Rohingya.
Menurut UNHCR, sedikitnya ada 17 orang dikhawatirkan tewas setelah perahu mereka terbalik. Sebuah organisasi penyelamat mengatakan kelompok itu sebelumnya berusaha mencapai Malaysia.
"Empat belas mayat ditemukan, dan 35 orang termasuk pemilik perahu diselamatkan hidup-hidup," ujar Letnan Kolonel Tun Shwe, juru bicara polisi di distrik Pathein, sekitar 200 kilometer barat Yangon.
Meskipun rincian lengkapnya masih belum jelas, UNHCR mengatakan bahwa kapal itu dilaporkan meninggalkan Sittwe di Myanmar barat pada 19 Mei dan terbalik dua hari kemudian setelah menghadapi perairan yang ganas.
Seorang anggota Organisasi Penyelamatan Myanmar Pathein yang meminta tidak disebutkan namanya mengatakan delapan mayat ditemukan pada hari Minggu di sebuah pantai sekitar tiga jam dari ibukota distrik. Sementara seorang aktivis Rohingya mengatakan kepada AFP bahwa 12 wanita dan dua anak laki-laki telah meninggal.
Disebutkan bahwa kapal itu membawa orang-orang dari kota Buthidaung, Maungdaw dan Sittwe di Myanmar barat. Korban selamat mengatakan kepada kelompok penyelamat bahwa 61 orang berada di kapal, di mana 12 penumpang masih hilang.
juru bicara Tun Shwe. mengatakan bahwa mereka yang diselamatkan saat ini ditahan di kantor polisi Pathein. Dia tidak mengatakan apakah ada yang akan dituntut, seperti yang terkadang terjadi pada Rohingya yang tertangkap mencoba melarikan diri dari Myanmar.
“Tragedi terbaru menunjukkan sekali lagi rasa putus asa yang dirasakan oleh Rohingya di Myanmar dan di kawasan itu,” kata Indrika Ratwatte, Direktur UNHCR untuk Asia dan Pasifik.
Seperti diketahui ratusan ribu Muslim Rohingya telah berusaha melarikan diri dari tindakan keras militer di Myanmar yang mayoritas beragama Buddha sejak tahun 2017. Membawa serta kisah-kisah mengerikan tentang pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran.
Setiap tahun, ratusan orang Rohingya melakukan perjalanan kapal selama berbulan-bulan yang berbahaya ke bagian lain Asia Tenggara. Malaysia, negara mayoritas Muslim, adalah tujuan favorit karena hampir tidak menampung diaspora Rohingya yang cukup besar.
(wk/amel)