Dengan mensimulasikan gempa bumi signifikan dengan pusat gempa berbeda, peneliti menyimpulkan korban tewas dapat mencapai 6.148 jika terjadi gempa besar di Tokyo selatan.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 25 Mei 2022 - 15:35 WIB
WowKeren - Sebuah proyeksi terbaru mengenai potensi gempa bumi di Jepang menunjukkan ribuan warga akan kehilangan nyawa jika terjadi gempa di ibu kota. Pemerintah kota metropolitan Tokyo mengatakan dalam sebuah laporan pada Rabu (25/5) bahwa hingga sekitar 6.100 orang akan tewas jika gempa bumi besar melanda jantung Tokyo.
Perkiraan ini sekaligus merevisi jumlah itu sekitar 30 persen dari satu dekade lalu. Laporan oleh panel ahli gempa pemerintah metropolitan mengaitkan pengurangan sekitar 3.500 orang dengan kemajuan dalam ketahanan bangunan terhadap gempa dan penggunaan bahan yang tidak mudah terbakar yang lebih besar dalam konstruksinya.
Dengan mensimulasikan gempa bumi yang signifikan dengan pusat gempa yang berbeda untuk proyeksi kerusakan terbaru, para peneliti menyimpulkan bahwa korban tewas dapat mencapai 6.148 jika terjadi gempa besar di bagian selatan pusat Tokyo dengan kekuatan 7,3.
Gempa seperti itu akan mencatatkan maksimum 7 pada skala intensitas seismik Jepang, dan mengguncang sekitar 60 persen dari 23 distrik Tokyo dengan intensitas di atas 6 atau lebih. Menurut badan meteorologi, goncangan pada intensitas di atas 6 cukup kuat untuk melemparkan orang ke udara. Diperkirakan banyak orang tidak memungkinkan untuk tetap berdiri atau bergerak tanpa merangkak.
Terkait jumlah perkiraan korban, 3.209 akan disebabkan oleh bangunan yang runtuh dan 2.482 oleh kebakaran. Sekitar 194.000 rumah dan bangunan lainnya akan rusak, sementara sekitar 4,53 juta orang tidak dapat kembali ke rumah mereka, menurut laporan itu.
Proyeksi serupa pada 2012 memperkirakan hingga 9.641 orang akan tewas, dan sekitar 304.000 rumah dan bangunan rusak. Sejumlah faktor disebut bisa mengurangi jumlah kematian dan kerusakan, mulai dari peningkatan ketahanan rumah terhadap gempa, dan berkurangnya kawasan perumahan kayu padat penduduk.
Naoshi Hirata, ketua panel dan profesor emeritus di Universitas Tokyo mengatakan bahwa meski jumlah kematian berkurang namun 6.000 bukanlah angka yang kecil. "Kerugian sebanyak 6.000 orang tidak boleh dibiarkan terjadi sehingga perlu untuk terus memajukan langkah-langkah," ujarnya.
(wk/zodi)