Cacar monyet yang menyebar melalui kontak fisik dekat memang dapat menginfeksi siapa pun. Namun vaksin cacar monyet Jynneos saat ini baru disediakan untuk pria LGBT yang berhubungan seks dengan pria lain.
- Bertilia Puteri
- Senin, 18 Juli 2022 - 12:38 WIB
WowKeren - Deretan pria berusia 20 hingga 40 tahun tampak mengantre di New York, Amerika Serikat, pada Minggu (17/7) untuk mendapatkan vaksin cacar monyet alias monkeypox. Sebuah SMA di Bushwick, Brooklyn, disulap menjadi pusat vaksinasi dengan deretan meja kursi dan tumpukan alat kesehatan.
Cacar monyet yang menyebar melalui kontak fisik dekat memang dapat menginfeksi siapa pun. Namun vaksin cacar monyet Jynneos saat ini baru disediakan untuk pria LGBT yang berhubungan seks dengan pria lain. Mengingat sebagian besar kasus cacar monyet berasal dari kelompok tersebut.
Para pria yang telah menunggu dalam antrean itu mengaku beruntung bisa membuat janji temu untuk divaksin lantaran New York kekurangan dosis. Sebagai contoh, 9.200 slot vaksinasi yang tersedia di situs web khusus kota pada Jumat (15/7) pukul 18.00 langsung penuh hanya dalam waktu tujuh menit. Lalu lintas situs tersebut juga sangat tinggi tiga hari sebelumnya hingga laman mengalami mogok.
"Itu membuat frustrasi, terutama karena dengan COVID Anda akan berpikir bahwa kita akan memiliki lebih banyak proses terstruktur atau peluncuran vaksin," kata pria berusia 23 tahun bernama Aidan Baglivo kepada AFP. "Benar-benar tidak ada apa-apa."
Minggu lalu, New York yang memiliki populasi lebih dari 8 juta mengalami peningkatan infeksi cacar monyet. Pada Jumat pekan lalu, New York mencatat 461 kasus cacar monyet, naik drastis dari 223 kasus pada hari Senin (11/7).
Sementara itu, pria lain bernama Robert mengaku harus duduk di depan komputer dan me-refresh situs web "seperti orang gila" hingga dia bisa mendapat slot vaksinasi. Sayangnya, pasangan dan sahabat Robert belum bisa mendapat slot vaksinasi cacar monyet.
"Ini seharusnya tidak menjadi masalah karena sudah ada vaksin, dan itu (peluncuran) harus ... lebih efisien untuk mencegahnya menjadi lebih dari masalah," jelas pria berusia 28 tahun tersebut. "Setiap hari tambahan di mana tidak ada lagi orang yang divaksinasi adalah hal yang menyedihkan."
Banyak kaum LGBT yang populasinya besar di New York khawatir komunitas mereka akan semakin terstigmatisasi karena virus tersebut. Salah satunya adalah seorang aktor bernama Nathan Tylutki yang mempertanyakan apakah respons yang lebih cepat untuk mengembangkan lebih banyak vaksin akan tersedia apabila virus itu tidak mempengaruhi kaum LGBT.
Ia menyatakan bahwa tidak ada banyak sentimen anti-vaksin di komunitas LGBT. "Kami tahu bahwa penting untuk proaktif tentang hal-hal semacam ini," tukasnya.
(wk/Bert)