Adapun kampanye vaksinasi cacar monyet di Montreal pertama kali diluncurkan pada pertengahan Mei 2022 lalu. Montreal telah memutuskan untuk menyediakan vaksin cacar monyet bagi semua orang yang menganggap diri mereka berisiko terpapar.
- Bertilia Puteri
- Sabtu, 13 Agustus 2022 - 14:10 WIB
WowKeren - Kota terbesar kedua di Kanada, Montreal, telah memutuskan untuk menyediakan vaksin cacar monyet bagi semua orang yang menganggap diri mereka berisiko terpapar. Ribuan warga negara asing (WNA), termasuk WN Amerika Serikat, lantas berduyun-duyun ke kota yang terletak sekitar 70 kilometer utara perbatasan AS di provinsi Quebec itu untuk disuntik.
Diketahui, persediaan vaksin cacar monyet di AS memang terbatas. Keterbatasan itu turut dirasakan oleh seorang art director dari Denver, Colorado, yang akhirnya mendapat vaksin cacar monyet saat berkunjung ke Montreal pekan lalu.
"Sangat sulit untuk mendapatkan vaksinasi di Amerika," tutur pria bernama Robb Stilson itu kala mengantre untuk disuntik di pusat vaksinasi pop-up bersama suami dan dua putrinya. "Saya punya teman yang sudah menunggu 8 atau 9 jam untuk masuk."
Pihak otoritas di Montreal memang memutuskan untuk menawarkan vaksin kepada semua orang yang berisiko karena pelacakan kontak cacar monyet terbilang sulit. Hal itu dilakukan untuk membendung penyebaran virus tersebut.
"Sebagai turis, mereka dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang dapat mengekspos mereka dan dengan demikian, kami memerangi pandemi dengan membiarkan mereka divaksinasi di sini sehingga mereka tidak menularkan infeksi baik di sini atau ketika mereka kembali ke rumah," papar Donald Vinh, spesialis penyakit menular di Pusat Kesehatan Universitas McGill, kepada AFP.
Adapun kampanye vaksinasi cacar monyet di Montreal pertama kali diluncurkan pada pertengahan Mei 2022 lalu, segera setelah kasus pertama cacar monyet terdeteksi. Sejak saat itu, Montreal telah menginokulasi 18.500 orang, 13 persen di antaranya adalah orang asing.
Kampanye vaksinasi ini bertujuan untuk menyuntik 25.000 dosis dan memvaksinasi sekitar 75-80 persen dari populasi yang dianggap berisiko. Khususnya kelompok pria yang berhubungan seks dengan pria atau dengan banyak pasangan.
"Saya berharap strategi yang digunakan oleh badan kesehatan masyarakat Montreal ini menjadi mercusuar bagi lembaga kesehatan masyarakat lainnya untuk digunakan sebagai strategi vaksinasi," tambah Vinh.
(wk/Bert)