WHO kini tengah meneliti adanya pengaruh mutasi perubahan genetik pada virus terhadap penyebaran wabah cacar monyet di dunia. Keragaman virus juga dinilai bertanggung jawab atas wabah saat ini.
- Amelia Nur Fatimah
- Jumat, 19 Agustus 2022 - 11:37 WIB
WowKeren - WHO (Wolrd Health Organization) mengatakan bahwa studi sedang dilakukan untuk melihat apakah perubahan genetik pada virus cacar monyet mendorong penyebaran penyakit yang cepat. Badan Organisasi Kesehatan Dunia itu mengatakan kepada AFP, Rabu (17 /8).
Melansir Todayonline.com, pada hari Jumat, WHO mengganti nama pengelompokan itu masing-masing sebagai Klade I dan Klade II, untuk menghindari risiko stigmatisasi geografis. Dua clades yang berbeda, atau varian, dari virus disebut clades Congo Basin (Afrika Tengah) dan Afrika Barat, setelah dua wilayah di mana mereka masing-masing endemik.
Itu juga mengumumkan bahwa Clade II memiliki dua sub-clade, IIa dan IIb, dengan virus di dalam yang terakhir diidentifikasi sebagai penyebab wabah global saat ini. Pada hari Rabu, badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan bahwa Clades IIa dan IIb terkait dan memiliki nenek moyang yang sama baru-baru ini. Oleh karena itu IIb bukan merupakan cabang dari IIa. Clade IIb berisi virus yang dikumpulkan pada 1970-an, dan mulai 2017 dan seterusnya.
"Melihat melalui genom, memang ada beberapa perbedaan genetik antara virus dari wabah saat ini dan virus Clade IIb yang lebih tua," kata WHO kepada AFP.
"Namun, tidak ada yang diketahui tentang pentingnya perubahan genetik ini, dan penelitian sedang berlangsung untuk menetapkan efek (jika ada) dari mutasi ini pada penularan dan tingkat keparahan penyakit. Masih awal dalam studi wabah dan laboratorium untuk mengetahui apakah peningkatan infeksi dapat didorong oleh perubahan genotipe yang diamati pada virus atau karena faktor inang (manusia). Juga belum ada informasi tentang apa arti mutasi dalam hal bagaimana virus berinteraksi dengan respon imun manusia," sambungnya.
Sementara lonjakan infeksi cacar monyet telah dilaporkan sejak awal Mei di luar negara-negara Afrika yang endemik. WHO telah menyatakan situasi darurat kesehatan masyarakat internasional pada 23 Juli. Lebih dari 35.000 kasus di 92 negara, dan 12 kematian, kini telah dilaporkan ke WHO, di mana hampir semua kasus baru dilaporkan dari Eropa dan Amerika.
“Keragaman antara virus yang bertanggung jawab atas wabah saat ini minimal, dan tidak ada perbedaan genotip yang jelas antara virus dari negara-negara non-endemik,” pungkas WHO.
(wk/amel)