Sebagian besar penonton program Netflix 'Culinary Class Wars' bahkan merasa Edward Lee seharusnya yang paling layak meraih kemenangan, alih-alih menempati peringkat 2.
- Farida Amalia Dwi Yanti
- Jumat, 11 Oktober 2024 - 13:03 WIB
WowKeren - Edward Lee menjadi salah satu chef peserta "Culinary Class Wars" yang paling banyak menuai pujian dari penonton. Pasalnya, chef dari tim White Spoon itu berhasil menunjukkan berbagai masakan yang tampak nikmat, terutama di misi "Neraka Tahu".
Sebagian besar penonton "Culinary Class Wars" bahkan merasa Edward seharusnya yang paling layak meraih kemenangan, alih-alih menempati peringkat 2. Terkait respons positif itu, sang chef mengucapkan terima kasih lewat postingan terbaru di Instagram.
Edward memposting sedang menonton drama Lee Se Young "The Red Sleeve". Di postingan itu, sang chef juga menunjukkan berbagai bahan masakan, yang siap di masak. Edward awalnya menulis caption, "Dari mana aku harus memulai?"
"Aku sangat berterima kasih atas semua curahan cinta yang aku terima selama beberapa minggu terakhir dari mereka yang menonton @netflixkr Culinary Class Wars. Aku tersentuh oleh semua komentar dan pesan kalian," imbuh Edward.
Edward membaca semua respons positif penonton dan dibanjiri emosi. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada setiap koki yang menjadi lawannya. "Itu adalah pengalaman yang luar biasa dan aku beruntung bisa menyebut kalian semua sebagai teman," tuturnya.
Edward juga menanggapi komentar khawatir dari para penonton yang merasa dirinya tidak diuntungkan karena tidak sepenuhnya tinggal di Korea selama syuting "Culinary Class Wars". "Dan bagi mereka yang mengatakan kalau aku tidak diuntungkan karena tidak memiliki dapur untuk berlatih di Korea, hal itu membuatku bertanya, 'Apa itu dapur?' ungkapnya.
"Setiap hari libur di Korea, aku mengubah kamar hotelku menjadi dapur percobaan, membeli bahan-bahan dari pasar lokal, dan menguji ide-ide baru sambil menonton drama Korea yang seru untuk mendapatkan motivasi," sambung sang chef.
Menurut Edward, dapur adalah perpaduan dari gairah, cinta, dan kreativitas, bukan hanya peralatan mewah atau bahan-bahan yang mewah. "Yang aku butuhkan hanyalah talenan, pisau, dan rasa ingin tahu untuk mengubah ruangan mana pun menjadi dapur," kuaknya.
(wk/amal)