Review Film Ready or Not 2: Sekuel yang Memperluas Dunia dan Memikat Penonton
Instagram/Elijah Wood/Instagram
Selebriti

Simak ulasan lengkap tentang film Ready or Not 2 yang penuh aksi dan humor gelap.

WowKeren - Film sekuel Ready or Not 2: Here I Come menghadirkan perluasan cerita yang lebih luas dengan tetap menawarkan kesenangan, meskipun ada catatan dalam pengembangan karakter dan chemistry antar pemeran. Tim kreatif di balik film ini, yang terdiri dari penulis naskah Guy Busick dan R. Christopher Murphy, serta sutradara Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett, berusaha mengeksplorasi dunia yang lebih besar dan kompleks.

Daya tarik utama film ini terletak pada cara mereka membangun lore yang kejam dan detail iblis dalam dunia elite global yang terus berkembang. Jika film pertama memberikan nuansa sadis dan thrilling dengan balutan satire sosial, sekuel ini lebih nyaman dengan humor gelap yang brutal dan ugal-ugalan.

Film ini dibuka dengan sekuens pembuka yang kuat, mengaitkan adegan terakhir dari film 2019 dengan awal kisah sekuel pada tahun 2026. Karakter Grace, yang diperankan oleh Samara Weaving, kembali selamat dari kejaran keluarganya, diiringi lagu Will You Still Love Me Tomorrow yang sangat pas. Salah satu nilai plus dari film ini adalah transisi yang halus di mana Grace memakai gaun pengantinnya yang bersimbah darah setelah diselamatkan polisi. Karena cerita dimulai tepat setelah film pertama berakhir, disarankan bagi penonton untuk menyaksikan pendahulunya terlebih dahulu sebelum menikmati sekuel ini.

Pertumbuhan cerita terlihat jelas dari karakter-karakter yang terlibat dalam sekuel. Keluarga Le Domas ternyata hanyalah salah satu dari sekian banyak keluarga miliarder yang terlibat dalam perjanjian dengan Mr. Le Bail. Hampir seluruh golongan 'satu persen' orang terkaya di dunia terlibat dalam kultus satanis ini, yang mengendalikan pemerintahan dan tatanan dunia dari balik layar. Konsep Capitalist Satanic Cult terasa sangat relevan dengan berbagai fenomena dunia nyata saat ini.

Pendalaman cerita ini berhasil berkat jajaran pemeran yang luar biasa. Sarah Michelle Gellar tampil memukau sebagai Ursula, dengan pesona jahatnya yang manipulatif, sementara Shawn Hatosy sebagai kembarannya, Titus, memberikan nuansa fisik yang haus darah. Kehadiran Elijah Wood sebagai pengacara Mr. Le Bail menambah energi film, ditambah Kathryn Newton yang memberikan warna baru sebagai Faith, adik dari Grace. Karakter-karakter pendukung lainnya juga berhasil menghidupkan kelompok elite melalui karakter-karakter unik yang hampir seperti parodi.


Meskipun ada beberapa stereotipe budaya yang sensitif, sutradara berhasil mengatasi hal ini dengan memberikan kejutan-kejutan yang membuat tebakan penonton meleset. Namun, di tengah semua karakter baru tersebut, perhatian utama tetap tertuju kepada Samara Weaving yang kembali memberikan performa fisik yang intens dan memikat. Meskipun penonton mungkin sudah bisa menebak siapa yang akan bertahan, daya tarik utama film ini tetap bergantung pada seberapa seru permainan maut tersebut dimainkan.

Sayangnya, pengembangan cerita ini tidak tanpa cela. Tim penulis tampak semakin berani memperbanyak adegan ritual setan yang mungkin membuat sebagian penonton merasa tidak nyaman. Meskipun peningkatan anggaran memungkinkan adanya adegan gore yang lebih kreatif, kualitasnya tidak konsisten hingga akhir, sering kali kembali ke formula lama tanpa peningkatan yang berarti.

Di sisi lain, beberapa momen kekerasan terasa terlalu brutal, seperti adegan pemukulan terhadap karakter Kathryn Newton yang tampak terlalu nyata dan mengerikan, mengganggu kenyamanan penonton. Dalam film yang dipenuhi dengan adegan kekerasan, unsur hiburan seharusnya tetap terjaga tanpa terasa 'menyakitkan' bagi penonton.

Kelemahan lainnya terletak pada naskah yang terjebak dalam penjelasan yang terlalu panjang, membuat ceritanya terasa berulang. Meskipun pembuat film berusaha memberikan kesan baru, sebenarnya tidak banyak ide segar yang ditawarkan. Pendalaman karakter pun kurang maksimal, hubungan antara Grace dan Faith terasa kurang meyakinkan, sulit untuk percaya bahwa mereka memiliki ikatan masa lalu. Mereka lebih sering terjebak dalam pertengkaran yang repetitif daripada membangun dinamika emosional yang kuat sebagai kakak-adik.

Karakter baru lainnya sering kali hanya berfungsi sebagai 'tumbal' tanpa latar belakang yang kuat. Film ini bisa jauh lebih kuat jika lebih fokus membangun kedalaman karakter baru daripada hanya menampilkan aksi perburuan yang konyol. Catatan lainnya adalah absennya terjemahan untuk dialog bahasa asing non-Inggris di sepanjang film. Meskipun tampaknya hanya berisi umpatan, keberadaan subtitle akan sangat membantu penonton memahami emosi adegan dengan lebih baik.

Pada akhirnya, Ready or Not 2: Here I Come mengambil pendekatan yang jauh lebih luas dalam menyampaikan pesan 'eat the rich', namun kehilangan fokus tajam yang membuat film pertamanya begitu mengesankan. Film ini tetap memberikan hiburan, meskipun dengan beberapa catatan yang perlu diperhatikan oleh penonton.

(wk/timw)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait